Bupati Mahayastra saat menyerahkan penghargaan kepada Kadek Kamardiyana. (BP/istimewa)

GIANYAR, BALIPOST.com – Pendiri komunitas Mai Organic, Kadek Kamardiyana meraih penghargaan Citra Karya Raksita 2026 sebagai Terbaik Inovasi Bidang Kelautan dan Perikanan. Penghargaan tersebut diserahkan Bupati Gianyar, I Made Mahayastra dalam ajang Anugerah Citra Karya Raksita Tahun 2026 yang digelar di alun-alun Kota Gianyar, Minggu (19/4), serangkaian peringatan HUT ke-255 Kota Gianyar.

Pada kategori inovasi bidang kelautan dan perikanan, penghargaan ini hanya diberikan kepada satu orang penerima. Kadek Kamardiyana dinilai sebagai inovator dengan skor kematangan indikator tertinggi serta pemaparan terbaik dari usulan inovasi masyarakat atau Sesa se-Kabupaten Gianyar.

Baca juga:  Prof. Dr. I Wayan Adnyana, S.Sn., M.Sn., Dikukuhkan Jadi Guru Besar Sejarah Seni Rupa

Kamardiyana sendiri merupakan pendiri komunitas Mai Organic yang berlokasi di Banjar Panglan, Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring. Kelian Banjar Dinas Panglan ini bersama para petani muda lokal lainnya mengembangkan sistem pertanian terintegrasi yang menggabungkan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan, serta dipadukan dengan konsep pariwisata.

Perjalanan inovasi yang mengantarkannya meraih penghargaan bermula sejak tahun 2016, saat komunitas Mai Organic mulai dibentuk sebagai sebuah upaya melestarikan metode pertanian tradisional dan organik. Komunitas ini kemudian bergerak secara berkelanjutan mengembangkan Mai Organic Farm dan program pelestarian alam dengan melibatkan komponen masyarakat, khususnya lokal Pejeng.

Baca juga:  Baik untuk Menangkap Ikan, Berikut Ala Ayuning Dewasa 12 Desember 2025

Dalam perjalanannya, tantangan besar muncul saat pandemi Covid-19, terutama terkait tingginya biaya pakan ternak ayam. Kondisi ini mendorong pihaknya untuk mencari alternatif pakan dari bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.

Upaya tersebut membuahkan hasil dengan ditemukannya metode pakan fermentasi. Kamardiyana bersama komunitasnya kemudian mengembangkan prebiotik alami sebagai bahan fermentasi, salah satunya memanfaatkan limbah upacara berupa penek. “Ayam menyukai pakan ini dan areal kandang juga tidak bau,” katanya.

Baca juga:  Sisir Pusat Kota Gianyar, Satpol PP Tertibkan Lima Gepeng

Inovasi tersebut tidak berhenti pada sektor peternakan. Pakan fermentasi kemudian dikembangkan sebagai pakan tambahan untuk budidaya lele. Sistem ini dipadukan dengan konsep hidroganik dan pertanian organik sehingga menciptakan ekosistem terpadu yang juga dimanfaatkan sebagai ruang rekreasi.

Atas pencapaian tersebut, Bupati Gianyar, I Made Mahayastra turut memberikan pesan agar inovasi yang telah dikembangkan dapat terus dilanjutkan dan diperluas manfaatnya. Pemerintah daerah mendorong agar inovasi ini tidak hanya berdampak bagi komunitas, tetapi juga masyarakat luas, serta menjadi inspirasi untuk terus melahirkan terobosan baru. (Dedy Sumarthana/balipost)

BAGIKAN