Sucipto. (BP/yud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Pascameninggalnya balita asal Banyuning Timur, akibat dengue shock syndrome (DSS) pada Selasa (7/4) lalu, Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Buleleng langsung bergerak cepat melakukan penyelidikan epidemiologi (PE). Dari hasil penelusuran di lapangan, petugas menemukan sejumlah titik jentik nyamuk di sekitar lingkungan tempat tinggal korban.

Kepala Diskes Buleleng, Sucipto, Selasa (14/4), mengatakan, temuan jentik tersebut memperkuat dugaan adanya transmisi lokal, khususnya di kawasan padat penduduk seperti Banyuning. Usai menerima laporan, tim PE langsung turun untuk melakukan penelusuran menyeluruh.

Baca juga:  Pendapatan Objek Wisata Besakih Anjlok

Petugas kemudian menyisir rumah-rumah warga di sekitar lokasi guna mengidentifikasi potensi sarang nyamuk lainnya. Upaya pengendalian darurat juga dilakukan melalui fogging selektif untuk menekan populasi nyamuk dewasa. “Begitu kami terima laporan, langsung kami lakukan PE. Dari hasil pemeriksaan, ditemukan sejumlah titik jentik,” ujarnya.

Sucipto mengakui fogging bukan solusi utama dalam memutus rantai penularan DBD. Hal terpenting adalah masyarakat tetap melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). ”Fogging tidak menjamin memutus siklus penularan, hanya membasmi nyamuk dewasa. Potensi jentik masih ada, belum lagi adanya pencemaran udara,” tegasnya.

Baca juga:  Laka Beruntun, Pengendara Motor Tewas

Ia juga menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Menurutnya, pencegahan paling efektif adalah dengan menghilangkan tempat berkembang biaknya nyamuk, seperti genangan air dan tumpukan sampah. Faktor kepadatan penduduk, cuaca ekstrem, serta kurangnya kepedulian terhadap kebersihan lingkungan menjadi pemicu meningkatnya kasus DBD.

“Lingkungan padat dan banyak tempat genangan air yang tidak dibersihkan bisa menjadi sarang jentik. Ini yang harus diwaspadai,” katanya.

Hingga 9 April 2026, Diskes Buleleng mencatat sebanyak 109 kasus DBD sejak awal tahun. Kecamatan Gerokgak menjadi penyumbang kasus terbanyak, diikuti Kecamatan Buleleng, Kubutambahan, Tejakula, dan Sukasada. Sementara, empat kecamatan lainnya masih nihil kasus.

Baca juga:  Terdakwa Dugaan Korupsi PDS Tabanan Sugi Darmawan Meninggal, Ini Kata PN Denpasar Soal Statusnya

Sucipto mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala awal DBD. Jika mengalami demam tinggi lebih dari tiga hari yang disertai bintik merah, mual, muntah, atau mimisan, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. “Kalau laporan cepat, penanganan juga bisa cepat. Ini kunci untuk mencegah kasus meluas,” tutupnya. (Yudha/balipost)

 

BAGIKAN