
DENPASAR, BALIPOST.com – Tekanan harga energi global mulai merembet ke berbagai sektor usaha di Bali, termasuk bahan baku plastik yang banyak digunakan sebagai kemasan produk UMKM. Kenaikan harga plastik dinilai sebagai dampak berantai dari konflik geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok dan jalur perdagangan dunia.
Meningkatnya hambatan jalur perdagangan dan biaya transportasi global turut mendorong kenaikan harga berbagai komoditas turunan energi. Plastik sebagai produk turunan petrokimia menjadi salah satu yang terdampak, terutama karena ketergantungan impor bahan baku dari kawasan Timur Tengah.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali Ronald D. Parluhutan di sela-sela Onboarding UMKM Rahayu 2026 mengatakan, ketidakpastian global saat ini menjadi tantangan bagi perekonomian, termasuk bagi pelaku UMKM.
“Di tengah dinamika global saat ini, kita dihadapkan pada berbagai tantangan, salah satunya meningkatnya ketidakpastian akibat kondisi geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah. Kondisi ini memberikan tekanan terhadap perekonomian melalui kenaikan harga komoditas, biaya produksi, gangguan rantai pasok global, serta ketidakpastian pasar ekspor yang pada akhirnya memengaruhi daya beli masyarakat dan keberlangsungan usaha, termasuk UMKM,” ujarnya di Denpasar Kamis (9/4).
Menurutnya, salah satu contoh konflik di Timur Tengah memberikan dampak langsung terhadap industri plastik karena bahan bakunya banyak berasal dari kawasan tersebut. Mengacu pada data Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS) per 7 April 2026, sekitar 70 persen bahan baku plastik Indonesia berasal dari Timur Tengah.
“Kita mencermati dari berbagai media bahwa harga plastik naik. Setelah ditelusuri, bahan baku plastik memang banyak berasal dari Timur Tengah, sekitar 70 persen. Gangguan rantai pasok ini tentu berdampak pada biaya produksi, terutama bagi UMKM makanan dan minuman yang menggunakan kemasan plastik,” jelasnya.
Pengamat ekonomi Kusumayani, M.M. menilai kenaikan harga plastik berpotensi memberikan tekanan pada pelaku usaha kecil karena kemasan merupakan komponen penting dalam biaya produksi. Jika plastik masuk dalam komponen pengemasan, maka dampaknya langsung dirasakan UMKM.
Ia pun berharap pelaku UMKM hingga masyarakat pun mulai mencari alternatif kemasan yang lebih efisien, seperti bahan kaca atau kemasan ramah lingkungan. Begitupula pemerintah daerah diharapkan turut memberikan dukungan agar beban UMKM tidak semakin berat. Pemda bisa turun ke lapangan untuk memantau agar harga tidak melambung terus.
Sementara itu, berdasarkan pantauan bisnisbali.com di lapangan, kenaikan harga plastik sudah mulai terasa sejak bulan lalu dan semakin meningkat dalam beberapa minggu terakhir. Kenaikan berkisar Rp1.000 hingga Rp10.000 tergantung jenis kemasan dan merek.
Debi, pengelola Erika Toko Plastik di Denpasar, mengatakan kenaikan paling terasa terjadi pada botol plastik yang sebelumnya Rp65.000 per bungkus isi 100 biji kini mencapai Rp95.000.
Selain itu, plastik OPP naik sekitar Rp2.000 per ikat, kresek kecil dari Rp1.500 menjadi Rp2.000 per bungkus, kresek tanggung dari Rp30.000 menjadi Rp37.000 per ikat, serta gelas plastik ukuran 10–14 dari Rp10.000 menjadi Rp14.000 per lonjor isi 50. Sementara ukuran 16 naik dari Rp10.000 menjadi Rp15.000, dan plastik OPP kaca dari Rp12.000 menjadi Rp17.000 tergantung ukuran.
Menurut Debi, kenaikan harga membuat sebagian pembeli mengurangi pembelian bahkan mencari toko lain dengan harga lebih murah.
“Sebagian pembeli mengurangi transaksi, ada juga yang mencari harga lebih murah di tempat lain. Tapi pelanggan yang sudah tahu kondisi biasanya tetap membeli,” ujarnya.
Ia mengakui kenaikan harga plastik mulai berdampak pada penurunan penjualan, meski tidak terlalu signifikan. (Suardika/balipost)










