
SINGASANA, BALIPOST.com – Kenaikan harga bahan baku, terutama kedelai impor dan plastik, mulai dirasakan perajin tempe di Tabanan. Kondisi ini memaksa pelaku usaha melakukan berbagai siasat agar tetap bertahan tanpa harus menaikkan harga jual.
Salah satu perajin, Muhammad Sabdullah (31), diwilayah desa Dauh Peken mengaku kenaikan harga bahan baku sudah terjadi sejak sekitar sebulan terakhir, bertepatan dengan memanasnya situasi di Timur Tengah.
Ia menyebut, harga kedelai impor jenis bola asal Amerika Serikat sempat menyentuh Rp 11.650 per kilogram, sebelum kini berangsur turun di kisaran Rp 10.950 per kilogram. “Kami pakai kedelai impor karena kualitasnya lebih bagus. Kalau kedelai lokal cepat rusak, tidak kering, dan setelah direbus cenderung lembek, jadi kurang mendukung produksi,” ujarnya, Kamis (9/4).
Dalam sehari, ia menghabiskan bahan baku sekitar 90 kilogram hingga 1 kuintal kedelai. Produksi tempe yang dihasilkan langsung terserap pasar karena sebagian besar merupakan pesanan pelanggan tetap. Usaha ini sendiri merupakan warisan keluarga yang telah dirintis sejak tahun 1970-an oleh almarhum ayahnya.
Di tengah tekanan biaya, Sabdullah memilih tidak menaikkan harga jual. Ia khawatir pelanggan akan beralih ke produk lain. Sebagai solusi, ukuran tempe disiasati dengan mengurangi ketebalan. “Dulu ketebalan sekitar 2,5 sentimeter, sekarang jadi sekitar 2 sentimeter. Panjang tetap 20 sentimeter, cuma ketebalan yang dikurangi. Takaran otomatis ikut disesuaikan,” jelasnya.
Siasat serupa juga pernah dilakukan saat harga kedelai melonjak pada masa pandemi Covid-19 yang sempat tembus Rp12.500 per kilogram. Selain kedelai, kenaikan juga terjadi pada bahan pendukung seperti plastik kemasan. Harga satu bal plastik kini mencapai Rp600 ribu dari sebelumnya Rp415 ribu, dengan masa pakai sekitar 20 hari.
Dalam kondisi harga bahan baku saat ini, Sabdullah mengaku mengeluarkan modal produksi sekitar Rp1 juta per hari. Dari usaha tersebut, ia memperoleh pendapatan bersih berkisar Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per hari, dengan jumlah produksi sekitar300 potong tempe yang dipasarkan ke pelanggan.
Proses pembuatan tempe sendiri memerlukan waktu cukup panjang, dimulai dari perebusan kedelai mentah selama dua jam, penggilingan untuk menghilangkan kulit, perendaman semalaman, hingga perebusan kembali selama sekitar tiga jam. Setelah itu, kedelai didinginkan, diberi ragi, dan dicetak sesuai ukuran. Ia menambahkan, penggunaan ragi juga harus tepat. Jika berlebihan, tempe justru cepat busuk. “Semua harus pas, mulai dari bahan sampai proses, supaya kualitas tetap terjaga,” pungkasnya. (Dewi Puspawati/balipost)










