
DENPASAR, BALIPOST.com – Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Bali pada Maret 2026 tercatat meningkat menjadi 104,94 atau naik 1,29 persen dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 103,61. Kenaikan ini menunjukkan daya beli petani Bali membaik, terutama didorong oleh lonjakan kinerja subsektor hortikultura.
Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan di Denpasar mengatakan kenaikan NTP dipengaruhi oleh meningkatnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 2,20 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,91 persen.
“Dengan posisi NTP di atas 100, kondisi tersebut mengindikasikan bahwa nilai tukar produk pertanian mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga petani, baik untuk konsumsi maupun biaya produksi,” katanya Jumat (3/4).
Dari lima subsektor penyusun NTP Bali, kata Agus Hendrayana, empat subsektor berada di atas angka 100, yakni tanaman pangan, hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, dan perikanan, sementara subsektor peternakan masih berada di bawah angka 100.
Berdasarkan data, subsektor hortikultura menjadi pendorong utama kenaikan NTP pada Maret 2026 dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 8,99 persen, dari 115,94 menjadi 126,36. Kenaikan ini dipicu meningkatnya harga sayur-sayuran hingga 12,77 persen dan buah-buahan 5,44 persen, dengan komoditas utama seperti tomat, jeruk, dan cabai merah.
Di sisi lain, subsektor tanaman pangan justru mengalami penurunan tipis sebesar 0,18 persen menjadi 103,15. Penurunan terjadi karena kenaikan biaya yang dibayar petani lebih tinggi dibandingkan harga yang diterima, terutama pada kelompok konsumsi rumah tangga dan biaya produksi.
Subsektor tanaman perkebunan rakyat juga mengalami penurunan 0,89 persen menjadi 109,19, meskipun harga komoditas seperti kopi, cengkeh, dan pala biji mengalami kenaikan. Penurunan terjadi akibat meningkatnya biaya konsumsi rumah tangga dan biaya produksi pertanian.
Secara umum, BPS menyebutkan, kenaikan NTP Bali pada Maret 2026 menunjukkan sektor pertanian masih mampu menjaga kesejahteraan petani, terutama dari subsektor hortikultura yang mengalami peningkatan harga komoditas.
BPS menilai dinamika harga komoditas pertanian dan biaya produksi menjadi faktor penting yang perlu terus diperhatikan agar kesejahteraan petani tetap terjaga di tengah fluktuasi harga pangan dan kebutuhan rumah tangga. (Suardika/balipost)










