Prosesi upacara pada puncak Karya Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK) di Pura Agung Besakih, pada Kamis (2/4). (BP/nan)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Pelaksanaan puncak karya serangkaian Tawur Tabuh Gentuh dan Karya Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK) 2026 di Pura Penataran Agung Besakih berlangsung pada purnama kadasa, Kamis (2/4). Upacara puncak sendiri dipuput 45 sulinggih.

Berdasarkan pantauan, krama yang hendak tangkil untuk melakukan prosesi persembahyangan sudah mulai terlihat sejak pagi hari. Sebelum mengikuti persembahyangan puncak karya di Pura Penataran Agung, pemedek lebih dulu melakukan persembahyangan ke pura pedarman masing-masing dan pura yang lainnya di kawasan Pura Agung Besakih.

Untuk pelaksanaan upacara puncak IBTK, mulai dilaksanakan sekitar pukul 11.30 WITA. Upacara diawali melakukan persembahyangan bersama.

Baca juga:  Kondisi Ekonomi Bali Tak Membaik, Pengusaha Minta Restrukturisasi Kredit Diperpanjang

Ketua Panitia Karya IBTK Pura Agung Besakih yang juga Bendesa Adat Besakih, Jro Mangku Widiartha, mengatakan, dalam puncak karya, telah digelar upacara mecaru manca sia (sembilan) di depan padma tiga, ambal-ambal dan di tempat yang lainnya sudah selesai dilaksanakan pukul 06.00 WITA. “Upacara ini telah selesai digelar sekitar pukul 07.30 WITA,” ujarnya.

Widiartha mengatakan, secara keseluruhan puncak karya IBTK dipuput sebanyak 45 sulinggih. Dan khusus di Pura Penataran Agung dipuput 11 orang sulinggih.

Rinciannya, untuk di Bale Gajah sebanyak enam sulinggih, tedun ke peselang dua sulinggih, pengrajeng karya pengemit karya, dan ambal-ambal masing-masing satu sulinggih. “Sisanya sulinggih muput di semua komplek pura yang lainnya di Pura Agung Besakih,” ucapnya.

Baca juga:  Harga Emas di Pegadaian Turun, Antam Naik Tipis

Menurut Jro Widiartha, dalam puncak Karya IBTK pura Agung Besakih ini, juga dilaksanakan upacara muspayang Ida Bhatara Turun Kabeh dan muspayang ida bhatara turun ke peselang. “Upacara pamuspaan dilaksanakan sampai pukul 11.30 WITA. Setelah itu, dilaksnakan upacara mendak karena pralingga ida bhatara akan turun ke bale peselang. Dan upacara pejiwan jiwan di Bale Peselang. Upacara persembahyangan akan dihadiri gubernur Bali dan wakil Gubernur Bali, Sekda dan bupati/wali kota se-Bali,” katanya.

Dia menjelaskan, sebelum upacara puncak, sehari sebelumnya pada Rabu (1/4) telah dilaksanakan upacara mapepada wewalungan. Kata dia, wewalungan yang dipergunakan saat mapepada tersebut di antaranya, angsa, ayam manca warna, penyu, kambing, kebo, dan wewalungan yang lainnya. “Upacara mapepada adalah untuk menyucikan roh wewalungan yang dihaturkan,” jelasnya.

Baca juga:  Polda “Warning” Premanisme Berkedok Ormas

Lebih lanjut dikatakannya, makna dari karya IBTK adalah berkumpulnya Ida Bhatara di luar catur lawa di pesamuhan Agung Besakih. “Maknanya kuncup ini adalah sebagai ungkapan puji syukur kepada beliau atas keberlimpahan yang diberikan selama ini. Selain itu juga meminta supaya jagat Bali beserta isinya diberikan kerahayuan,” katanya Jro Widiartha. (Eka Parananda/balipost)

 

BAGIKAN