
DENPASAR, BALIPOST.com – Pemilahan sampah menjadi hal paling penting yang mesti dilakukan untuk menghadapi pelarangan pembuangan sampah organik ke TPA Suwung per 1 April. Untuk itu, sosialisasi pemilahan sampah yang kini digencarkan, didukung penuh komponen Forum Komunikasi Swakelola Sampah Bali.
Surat imbauan pun disebarkan kepada seluruh anggota agar ikut mengedukasi warga untuk memilah sampah.
Hal tersebut disampaikan Ketua Forum Komunikasi Swakelola Sampah Bali, I Wayan Suarta yang dihubungi, Kamis (26/3).
Menurut Suarta, saat ini kesadaran masyarakat memilah sampah masih sangat kurang. Indikasinya, sampah dari warga masih kebanyakan yang dalam kondisi tercampur. “Berdasarkan pantauan dari teman-teman swakelola sampah, yang bertugas mengangkut sampah dari warga, kebanyakan sampahnya masih tercampur,” kata Suarta.
Menurutnya, meski telah gencar disosialisasikan, kesadaran pemilahan sampah masih sangat kurang karena beberapa faktor. Salah satunya ada anggapan, karena sudah membayar, merasa tidak perlu memilah sampah.
Suarta mengaku agak pesimis, kesadaran pemilahan sampah akan terbentuk per 1 April ini. “Saya agak pesimis, kesadaran masyarakat memilah sampah akan terwujud per 1 April ini, ” ujarnya.
Meski demikian, mantan Bendesa Adat Renon ini ikut mendukung sosialisasi kepada masyarakat. “Kami dari Forum Komunikasi Swakelola Sampah Bali akan mengeluarkan surat imbauan kepada seluruh anggota agar ikut mengedukasi pelanggan-pelanggannya untuk memilah sampah. Karena ini menjadi kunci utama masalah sampah,” katanya.
Lebih jauh, Suarta mengatakan sulit membayangkan apa yang terjadi jika sampah organik dilarang dibuang di TPA Suwung ketika kesadaran pemilahan sampah masih sangat kurang. “Sampah yang dibawa ke TPA Suwung tetap kebanyakan sampah organik. Ketika dicek dan ternyata ada sampah organik lalu disuruh kembali, kemana sampahnya akan dibawa?” tanya Suarta.
Ada kemungkinan, truk pembawa sampah akan dibiarkan berada di jalanan menuju TPA Suwung. Dan jika ini terjadi, maka masalah sampah juga akan bertambah besar. Mengingat sehari saja sampah tidak terangkut, maka akan menumpuk dimana-dimana di seluruh Kota Denpasar. “Ini akan menjadi masalah besar, yang akan berdampak langsung kepada sektor pariwisata,” ujarnya lagi. (Nyoman Winata/balipost)










