
BANGLI, BALIPOST.com – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Bangli memberikan kesempatan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) untuk bertatap muka langsung dengan keluarga tanpa sekat jeruji besi seperti pada layanan kunjungan pada umumnya. Kebijakan itu diberikan sebagai bentuk apresiasi dan reward di momen Hari Raya Idulfitri dan Nyepi.
Kesempatan tersebut diberikan usai upacara pemberian remisi khusus kepada WBP yang beragama Hindu dan Islam dalam rangka perayaan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri yang jatuh dalam waktu yang berdekatan, Sabtu (21/3). Kegiatan itu tetap dilaksanakan dengan pengawasan dan pengamanan ketat oleh seluruh petugas guna memastikan keamanan dan ketertiban tetap terjaga.
Kepala Rutan Bangli Resnu Parada Andhika menyampaikan bahwa pemberian kesempatan ini merupakan bentuk nyata dari pendekatan humanis dalam sistem pemasyarakatan. “Kami ingin menghadirkan suasana yang lebih manusiawi, lebih hangat, dan lebih bermakna. Momen setelah pemberian remisi ini menjadi waktu yang tepat untuk mempertemukan mereka dengan keluarga tanpa sekat. Karena kami percaya, cinta dan dukungan keluarga adalah bagian penting dari proses pembinaan,” ujarnya.
Lebih lanjut, dia menambahkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar kunjungan, tetapi juga bagian dari upaya membangun harapan. “Di balik setiap pelukan hari ini, ada harapan yang tumbuh. Harapan untuk berubah, untuk kembali, dan untuk menjadi pribadi yang lebih baik di tengah masyarakat nantinya,” ujarnya.
Sementara itu, pada Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri tahun ini sebanyak 91 WBP di rutan Bangli menerima remisi khusus. Rinciannya 49 WBP beragama Islam, dan 42 WBP beragama Hindu. Pemberian remisi ini merupakan bentuk penghargaan negara kepada WBP yang telah menunjukkan perubahan perilaku positif selama menjalani masa pembinaan.
Menurut Resnu Parada Andhika remisi bukan sekadar pengurangan masa pidana, melainkan wujud kepercayaan negara kepada WBP untuk terus memperbaiki diri dan kembali menjadi anggota masyarakat yang lebih baik. “Momentum perayaan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri yang berdekatan ini menjadi simbol kuat bahwa keberagaman adalah kekuatan. Melalui pemberian remisi secara bersamaan ini, kami ingin menegaskan bahwa nilai toleransi, kebersamaan, dan kerukunan umat beragama harus terus dijaga, termasuk di dalam lingkungan pemasyarakatan,” imbuhnya. (Dayu Swasrina/balipost)










