
MANGUPURA, BALIPOST.com – Ajang Badung Caka Fest 2026 kembali menampilkan kreativitas luar biasa dari sekaa teruna di seluruh wilayah Kabupaten Badung. Dari total 21 nominator ogoh-ogoh yang tersebar di tujuh zona, panitia menetapkan tiga karya terbaik sebagai juara harapan.
Penghargaan ini diberikan kepada karya ogoh-ogoh yang tidak hanya menonjolkan estetika, tetapi juga mengangkat nilai filosofis, spiritual, serta kearifan lokal Bali.
Juara Harapan 1 diraih oleh Sekaa Teruna Putra Laksana, Banjar Bersih, Desa Adat Tegal, Desa Darmasaba, Kecamatan Abiansemal dengan karya berjudul “Prayatna” yang memperoleh nilai 828.00.
Konseptor karya tersebut, Putu Hindra Winarsa menjelaskan bahwa konsep “Prayatna” memiliki makna filosofis yang kuat dalam khazanah Bahasa Kawi Bali. “Prayatna dalam khazanah Bahasa Kawi Bali mengandung makna yang mendalam, dari kata prayatna yang berarti desakan atau tuntutan, dan yatna yang bermakna waspada serta kesiapsiagaan.
Dalam konteks karya ini, prayatna menjadi dialektika spiritual antara tuntutan energi yang direpresentasikan oleh Ratu Gede Mecaling dan kesiapsiagaan I Dewa Agung Anom dalam menata serta menjaga harmoni dan keseimbangan jagat,” jelasnya. Konsep tersebut bersumber dari Jro Pemangku Pura Dalem Ped, Nusa Penida.
Sementara itu, Juara Harapan 2 diraih Sekaa Teruna Putra Dharma Jati dari Banjar Batubelig Kangin, Desa Adat Kerobokan, Kelurahan Kerobokan Kelod, Kecamatan Kuta Utara dengan karya “Bergah” yang meraih nilai 814.00. Karya ini mengangkat nilai spiritual yang bersumber dari petikan kekawin: Ragadi Musuh Maparep Tan Madoh Riawak, Ri Hati Tongoania.
Petikan tersebut mengingatkan bahwa musuh terbesar manusia sejatinya tidak berada di luar diri, melainkan dalam hati dan pikiran. Nilai tersebut merefleksikan konsep Sad Ripu, enam musuh dalam diri manusia yang sering menggoda perjalanan hidup.
Filosofi ini tercermin dalam kisah Mahabharata ketika Bima, atau Werkudara putra Bayu, menjalankan tugas mencari Kembang Sugandika atas permintaan Dewi Drupadi sebagai wujud bhakti dan kesetiaan. Dalam perjalanan itu, Bima menghadapi seekor kera tua yang menghalangi jalannya, yang menjadi simbol ujian batin yang membangkitkan sifat mada atau keangkuhan serta krodha atau amarah.
Adapun Juara Harapan 3 diraih Sekaa Teruna Bhakti Yowana, Banjar Banjaran, Desa Adat Abiansemal, Desa Abiansemal Dauh Yeh Cani, Kecamatan Abiansemal dengan karya Prahara Ning Candra Gohmuka yang memperoleh nilai 813.00.
Konseptor karya, Ida Bagus Gede Pandu Brahmananda Putra menjelaskan bahwa karya ini mengangkat kisah perjalanan Bima yang menembus alam niskala demi membebaskan roh kedua orang tuanya, Prabu Pandu dan Dewi Madri, dari hukuman karma di kawah Candra Gohmuka.
Prahara Ning Candra Gohmuka menggambarkan perjuangan Bima menghadapi penjaga kawah, Butha Tongtong Jil, hingga memicu huru-hara besar yang memanggil Sang Jogor Manik, Sang Suratma, dan Dewa Yama yang datang dengan wahananya kerbau hitam sebagai penegak hukum kematian dan keadilan.
Melalui kisah ini, karya tersebut menegaskan nilai keberanian, kejujuran, serta keteguhan dalam menjalankan dharma. Pengabdian Bima kepada orang tuanya menjadi simbol bakti yang tulus serta pengingat bahwa penghormatan kepada orang tua merupakan jalan pembebasan dari hukum karma dalam kehidupan lintas zaman. (Parwata/balipost)










