Para STT dari juara I tingkat kecamatan saat tengah mempersiapkan ogoh-ogoh mereka sebelum nantinya dinilai dalam ajang Festival Singasana III. (BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Ogoh-ogoh juara I tingkat kecamatan mulai “loading” secara bertahap di Gedung Wisnu Singasana (GWS), Kamis (12/3). Setidaknya sudah lima ogoh-ogoh yang tiba di lokasi untuk nantinya mengikuti penilaian tingkat Kabupaten Tabanan. Namun di balik proses pengiriman tersebut, para sekaa teruna harus melalui perjuangan panjang saat membawa ogoh-ogoh dari banjar asal menuju GWS.

Salah satunya dialami ST Yowana Bhakti Kencana, Banjar Bajera Kaja, Desa Bajera, Kecamatan Selemadeg. Ogoh-ogoh yang mereka bawa memerlukan waktu hingga tujuh jam perjalanan sebelum akhirnya tiba di Singasana.

Undagi ogoh-ogoh, I Wayan Yedi Supardiyana, mengatakan rombongan berangkat dari banjar setempat sekitar pukul 08.30 Wita dan baru tiba di lokasi sekitar pukul 15.30 Wita. Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh sekitar tiga jam menjadi lebih lama akibat berbagai kendala di jalan.

Baca juga:  Program Makan Bergizi Gratis Hadapi Banyak Tantangan di Bali

“Hambatan terbesar karena banyak kabel dan pohon perindang yang melintang di jalan. Kecepatan mobil bahkan hanya sekitar lima kilometer per jam,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat rombongan beberapa kali harus berhenti untuk menghindari ranting pohon atau kabel yang terlalu rendah. Di wilayah Sembung, perjalanan bahkan sempat terhambat karena pohon bambu yang miring ke badan jalan.

Selain itu, cuaca juga menjadi tantangan tersendiri. Saat berangkat kondisi cuaca masih cerah. Namun setelah menempuh jarak sekitar dua kilometer, hujan deras disertai angin tiba-tiba turun. Meski ogoh-ogoh telah ditutup plastik, beberapa bagian seperti cat, kain piyasan hingga anatomi tetap mengalami kerusakan.

“Saat ini masih dilakukan perbaikan di beberapa bagian yang rusak akibat hujan yang tidak terduga,” jelasnya.

Selama perjalanan, para anggota sekaa teruna juga beberapa kali beristirahat karena mereka ada yang harus berjalan kaki membawa bambu untuk membantu memberikan ruang gerak bagi ogoh-ogoh yang melintas dari kabel dan dahan pohon.

Baca juga:  Ratusan Ogoh-ogoh akan Diarak di Denpasar

“Rombongan biasanya berhenti setelah menempuh jarak sekitar 5 hingga 10 kilometer, karena lelah untuk perbaikan ogoh-ogoh baru nanti akan kami lakukan,” ucapnya

Yedi berharap ke depan jalur yang dilalui ogoh-ogoh mendapat perhatian, terutama terkait pemangkasan pohon perindang serta penataan kabel yang melintang di jalan. Termasuk juga rata rata ketinggian ogoh-ogoh yang ikut lomba juga harus menjadi pertimbangan kedepan. “Kedepan tentu kami berharap ada perhatian untuk jalur yang dilalui ogoh-ogoh, agar perjalanan bisa lebih aman,” katanya.

Ogoh-ogoh karya ST Yowana Bhakti Kencana tahun ini mengangkat tema “Dewi Gagar Mayang Duka”, terinspirasi dari kisah sekaa joged klasik di banjar tersebut yang pernah berjaya pada era 1990-an namun kemudian berhenti akibat perubahan pakem pertunjukan. Pembuatan ogoh-ogoh tersebut menghabiskan dana sekitar Rp45 juta dengan proses pengerjaan sekitar dua bulan lebih, dimulai sejak Desember 2025 hingga Februari 2026.

Baca juga:  Masuki Minggu ke-3, Dua Zona Merah Masih Terus Tambah Kematian

Perjalanan penuh tantangan juga dialami Sekaa Teruna Pratisena Ardhani Nararya, Banjar Padangan Kaja, Pupuan yang membawa ogoh-ogoh bertema “Anggruat”. Mereka juga menempuh perjalanan hingga tujuh jam akibat kendala kabel dan pepohonan di sepanjang jalan. Meski beberapa bagian mengalami kerusakan ringan, proses pengangkutan berjalan aman dengan pengawalan dari Polsek Pupuan.

Para pemuda berharap ke depan pemerintah daerah dapat memperhatikan jalur yang dilalui ogoh-ogoh, terutama penataan kabel serta pemangkasan pohon perindang agar perjalanan menuju lokasi penilaian dapat berjalan lebih lancar. (Dewi Puspawati/balipost)

 

BAGIKAN