Suasana Dialog yang melibatkan Majelis Desa Adat (MDA) Bali, PHDI, Pasikian Pecalang dan Yowana. (BP/Win)

DENPASAR, BALIPOST. com – Bali telah lama menunjukkan kehidupan beragama yang rukun harmonis penuh toleransi. Keharmonisan tersebut kembali bersiap menghadapi ujian berikutnya yakni saat Nyepi tahun ini yang kemungkinan besar bersamaan dengan malam takbiran. Dibutuhkan kesediaan untuk bersikap menyejukkan dan mencegah sedini mungkin menjelmanya potensi konflik.

Demikian terungkap dalam dialog yang digelar Direktorat Intelkam Polda Bali bersama Majelis Desa Adat (MDA) Bali, PHDI Bali, Pasikian Pecalang Bali dan Pasikian Yowana Bali di Denpasar, Senin (9/3).

Penyarikan Agung MDA Bali, Dr. I Dewa Nyoman Rai Asmara Putra mengingatkan bahwa sesuai dengan Perda Nomor 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali, fungsi utama Desa Adat adalah mewujudkan Kasukretan yang berarti terwujudnya keamanan, ketertiban dan kesejahteraan bersama. “Hampir seluruh wilayah di Bali ini terbagi habis menjadi wewidangan desa adat. Sehingga, setiap jengkal tanah Bali dipastikan berada dalam wewengkon desa adat,” kata Rai Asmara. Dalam konteks Nyepi tahun ini yang akan bersamaan dengan malam takbiran, sudah menjadi tugas desa adat melalui Pecalang untuk menjamin adanya keamanan dan ketertiban. Sehingga, setiap potensi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dapat dilakukan pencegahan.

Baca juga:  Kebakaran Kios Pasar Menanga Diduga Kuat Karena Korsleting Kipas Angin

Disisi lain, Dewa Rai juga mengingatkan meskipun setiap desa adat memiliki otonomi mengatur wewidanganya masing-masing, namun tetap tunduk pada pengaturan oleh negara sebagai wujud dari konsep Negara Mawatata. Disinilah, desa adat dituntut mampu menjaga tetap berlangsung Nyepi secara aman dan tertib tanpa ternodai kesakralannya.

Sementara itu, Ketua PHDI Bali, Nyoman Kenak mengajak umat Hindu untuk menjadi samudra penyejuk di tengah kemungkinan terjadinya konflik-konflik saat Nyepi berbarengan dengan takbiran. “Marilah umat Hindu menjadi samudra penyejuk. Jika ada percikan kecil api konflik jangan disiram dengan bensin,” ujarnya. Aturan pelaksanaan Nyepi yang sudah disepakati bersama diharapkan dilaksanakan oleh seluruh penganut agama di Bali.

Baca juga:  Pungut HP Jatuh, Pria Asal Kayubihi Diamankan Polisi

Seluruh pihak juga diajak untuk bersama-sama mensosialisasikan hasil keputusan bersama menghadapi Nyepi dan takbiran. PHDI Bali menurut Kenak selalu menekankan pentingnya mengedepankan sastra agama dalam setiap tindakan. Demikian pula dalam menghadapi situasi jelang Nyepi kali ini. “Tetaplah berpedoman kepada sastra agama,” katanya.

Sementara itu, Kasudit 3 Bidang Sosbud Direktorat Intelkam Polda Bali, AKP Nengah Mudarya, mengatakan pihaknya berharap situasi aman dan kondusif tetap terjaga. Pasalnya Bali sangat tergantung dari sektor pariwisata yang mengedepankan keamanan. Jika terjadi gangguan, maka pariwisata akan terdampak. Terlebih lagi ditengah situasi global yang diliputi konflik, maka tekanan terhadap sektor pariwisata menjadi kian berat.

Baca juga:  Tambahan Kasus COVID-19 Bali Masih Signifikan, Korban Jiwa Juga Dicatatkan

Murdaya berharap seluruh tokoh bormas Hindu dan adat yang hadir bersama-sama ikut mensosialisasikan seruan bersama tokoh agama terkait pelaksanaan Nyepi tahun ini. Dengan demikian, Nyepi yang aman tertib dan kondusif dapat terwujud. (Nyoman Winata/Bali Post)

BAGIKAN