Ogoh-Ogoh “Witala” karya ST. Bineka, Banjar Binoh Kelod yang mengangkat Filosofi Tanah Penjaga Air. (BP/Suk)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kreativitas generasi muda kembali mewarnai Kasanga Festival ke-4 tahun 2026 di Denpasar. Kali ini, ST. Bineka Banjar Binoh Kelod menampilkan ogoh-ogoh berjudul “Witala”, sebuah karya yang sarat makna tentang pentingnya tanah sebagai penjaga siklus air dan keseimbangan alam.

Ketua ST. Bineka, Kadek Angga Dwi Prasetya Putra, menjelaskan bahwa “Witala” memiliki arti Pertiwi, yakni sumber dari segala sumber kehidupan. Dalam konsep tersebut, tanah digambarkan sebagai perantara utama dalam siklus air menentukan kapan air harus ditampung dan kapan harus dilepaskan sehingga keberadaannya menjadi faktor penting dalam menjaga kelestarian air di alam.

Baca juga:  Pura Segara, Potensi Budaya yang Harus Dilestarikan

Ia menambahkan, dalam sastra Jawa Kuno kata “Wi” berarti sangat atau baik, sedangkan “Tala” berarti pola atau tahapan. Dengan demikian, “Witala” dimaknai sebagai kemampuan manusia dalam mempolakan atau mengelola alam, khususnya air, secara baik dan bijaksana.

“Ketika manusia mampu menjaga pola alam dengan benar, maka seluruh isi alam semesta akan merasakan keharmonisan dan kesejahteraan,” jelas Angga.

Karya ogoh-ogoh ini juga memvisualisasikan beberapa tokoh simbolis. Salah satunya adalah sosok rakyat yang sedang menyirami tanaman sebagai gambaran sederhana tentang cara manusia menjaga keseimbangan alam.

Baca juga:  Ogoh-ogoh Nyaris Dibakar, Ini Gara-garanya

Selain itu, terdapat figur raksasa agung yang disebut Kala Tala-Tala, simbol waktu yang menjadi saksi atas setiap perbuatan manusia baik ketika menjaga maupun merusak alam.

Tidak hanya itu, karya ini juga menghadirkan simbol penyatuan Dewi Basundari dan Dewi Danu, yang melambangkan pemuliaan terhadap air sekaligus pesan edukatif kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian alam.

“Pesan yang ingin kami sampaikan sederhana, jika kita tulus menjaga alam maka alam juga akan menjaga kita. Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai,” tambah Angga.

Ogoh-ogoh “Witala” mulai dikerjakan sejak tanggal 2 Januari 2026, diawali dengan pembuatan rangka, dilanjutkan proses pembentukan hingga tahap finishing. Proses pengerjaan melibatkan kreativitas dan kerja sama para pemuda ST. Bineka.

Baca juga:  Ogoh-ogoh Dilarang Dipajang di Badan Jalan

Terkait biaya pembuatan, Angga mengaku belum melakukan perhitungan secara rinci karena masih dalam tahap rekapitulasi. Namun secara global, biaya yang dikeluarkan diperkirakan mencapai lebih dari Rp50 juta.

Melalui karya “Witala”, ST. Bineka Banjar Binoh Kelod berhasil menarik perhatian dan lolos ke babak 16 besar Kasanga Festival 2026, sekaligus menunjukkan komitmen generasi muda dalam mengangkat pesan pelestarian alam melalui seni ogoh-ogoh. (Suka Adnyana/balipost)

BAGIKAN