
DENPASAR, BALIPOST.com – Setelah cukup lama vakum dari ajang kompetisi ogoh-ogoh tingkat Kota Denpasar, Sekaa Teruna (ST) Swastika Banjar Pekambingan, Denpasar Barat, memastikan diri kembali ikut berlomba pada Kasanga Festival 2026 dalam rangka menyambut Tahun Baru Çaka 1948.
Seperti dikatakan Wayan Agus Jaya dari ST Swastika saat ditemui di utara Lapangan Puputan Badung, Jumat (6/3), kembalinya ST Swastika ke arena lomba tahun ini bukan tanpa alasan. Kelompok pemuda ini sebelumnya dikenal sebagai salah satu peserta yang cukup disegani karena pernah menorehkan prestasi membanggakan, yakni meraih juara tiga kali pada tahun 2014, 2016, dan 2017.
Pada tahun 2017, ST Swastika bahkan berhasil meraih juara I tingkat Kecamatan Denpasar Barat. Saat itu sistem lomba masih menggunakan format seleksi delapan besar per kecamatan sebelum melaju ke tingkat kota.
Setelah cukup lama tidak mengikuti kompetisi, tahun ini ST Swastika kembali dengan semangat baru. Mereka mengusung tema “Satya pada Nawa Ruci”, yang mengandung makna keteguhan dalam memegang kebenaran dan kesetiaan pada ajaran dharma.
Pesan moral yang ingin disampaikan dalam garapan ogoh-ogoh ST Swastika Banjar Pekambingan yang berjudul “Satya Pada Nawa Ruci” adalah menjadikan perjalanan hidup seperti air yang tak pernah berhenti mengalir. Walau jalan yang dilalui tidak selalu sesuai harapan, tetaplah mengalir dan memberi kehidupan bagi semua makhluk, dengan berpegang teguh pada ajaran dharma untuk mencapai kebenaran sejati.
Proses pengerjaan ogoh-ogoh dilakukan selama kurang lebih dua bulan. Para anggota sekaa teruna mengerjakannya secara gotong royong dengan memanfaatkan bahan-bahan alami yang umum digunakan dalam pembuatan ogoh-ogoh, seperti rotan, kayu, kertas dan lainnya. Hal ini menunjukkan keseriusan mereka dalam mempersiapkan karya terbaik untuk kembali bersaing di ajang bergengsi tersebut.
Total biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan ogoh-ogoh diperkirakan kisaran Rp100 juta. Anggaran tersebut mencakup seluruh kebutuhan produksi hingga konsumsi selama proses pengerjaan.
Perwakilan ST Swastika menyampaikan bahwa setelah cukup lama vakum dari lomba tingkat kota, keikutsertaan mereka pada tahun ini menjadi momentum untuk kembali menunjukkan kreativitas generasi muda banjar dalam melestarikan tradisi ogoh-ogoh menjelang Hari Raya Nyepi.
“Setelah lama vakum dari lomba kota, tahun 2026 kami kembali dengan persiapan yang lebih serius,” ungkapnya.
Diambil dari Naskah Lontar Kuno
Garapan ogoh-ogoh ini diambil dari naskah lontar kuno yang menceritakan perjalanan seorang ksatria dalam memuliakan air (tirta pawitra) untuk menemukan kebenaran sejati dalam dirinya. Keteguhan hati, kesiapan mental, dan kesetiaan dalam mengemban tugas dari sang guru membuat Sang Bima tak pernah berhenti melewati segala rintangan demi menemukan tirta pawitra.
Laksana laku air yang terus mengalir menuju muara, walau medan berat dan rumit sekalipun, air tetap menembus dan membelah apa yang dilalui. Ia mengalir membawa dampak positif maupun negatif pada jalur yang dilewatinya.
Dalam kisah ini diceritakan pertempuran sengit antara Bima melawan Sang Naga “Nembur Nawa”. Pertempuran tersebut menjadi simbol hakikat manusia dalam mencapai tujuan hidupnya berjuang dengan segala daya dan upaya agar meraih apa yang diinginkan. Walau rintangan hidup terkadang terasa sulit dan mustahil, dengan tekad kuat dan ketulusan, segala tujuan dapat dicapai.
Naga berkepala sembilan melambangkan sembilan arah mata angin, simbol berbagai jalan yang dapat ditempuh manusia untuk mencapai tujuan akhir hidupnya. Dewa Ruci dalam garapan ini digambarkan sebagai sosok dewa bertubuh kecil menyerupai Sang Bima.
Ia merupakan simbol tujuan akhir perjalanan manusia. Sesungguhnya, walaupun derajat hidup setiap manusia berbeda, pada akhirnya semua akan terlepas dari ikatan duniawi dan kembali dengan membawa karma phala buah dari perbuatannya sendiri. Laksana air yang mengalir dari hulu, walau jalannya berbeda-beda, pada akhirnya akan bermuara di hilir yang sama. (Suardika/balipost)










