
DENPASAR, BALIPOST.com – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran pada awal 2026 diproyeksikan juga akan berpotensi mempengaruhi kondisi ekonomi nasional hingga Bali yang mengandalkan sektor pariwisata.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara saat dihubungi menyampaikan, proyeksi harga minyak mentah dapat menembus 100-120 dolar AS per barel. Selat Hormuz yang terganggu akan mempengaruhi 20% pasokan minyak dunia.
Kondisi diperburuk oleh ditolaknya pengajuan asuransi oleh berbagai kapal logistik yang melewati areal konflik. Situasi ini menyebabkan kesulitan importasi minyak bagi banyak negara.
“Karena kita net importir minyak, maka konsekuensi ke BBM nya memang besar,” katanya Senin (2/3).
Dalam simulasi APBN 2026, setiap 1 USD per barrel kenaikan harga minyak di atas asumsi APBN akan membuat belanja negara bertambah Rp10,3 triliun. Artinya jika minyak tembus 100 USD sampai dengan 120 USD maka belanja negara bisa naik hingga Rp515 triliun pada 2026.
“Bukan hanya beban subsidi BBM, tapi juga kompensasi ke Pertamina, dan beban subsidi listrik. Ada beban ganda langsung ke APBN,” jelasnya.
Kondisi diperburuk oleh kekhawatiran flight to quality dari investor menyebabkan pelemahan rupiah. Pangan rentan terdampak, terutama yang sensitif terhadap fluktuasi kurs dan gangguan rantai impor, seperti kedelai, gandum, daging. Imported inflation dari minyak dan pangan akan menciptakan downward spirall ke daya beli masyarakat.
“Jika konflik berlanjut dan meluas bahkan banyak negara berkembang jatuh pada krisis ekonomi,” kata Bhima.
Bagaimana dengan ekonomi Bali?. Pengamat ekonomi dari Universitas Warmadewa, Dr. Putu Ngurah Suyatna Yasa, S.E., M.Si. menilai, di luar dampak langsung pada pariwisata, konflik geopolitik di Timur Tengah juga memicu tekanan makroekonomi yang berimbas ke Bali. Lonjakan harga minyak mentah global yang sempat menembus kisaran US$100–112 per barel berdampak pada kenaikan biaya avtur dan logistik.
Kenaikan tersebut berpotensi mendorong harga tiket pesawat dan biaya distribusi barang ke Bali. Di sisi lain, sentimen global yang negatif mendorong penguatan dolar AS dan berisiko melemahkan nilai tukar rupiah.
Suyatna Yasa melihat pelemahan rupiah hingga mendekati Rp17.000 per dolar AS akan meningkatkan biaya impor bahan baku untuk kebutuhan hotel dan restoran.
“Bali masih bergantung pada sejumlah bahan impor untuk sektor hospitality. Jika rupiah tertekan, margin usaha ikut menyusut,” jelasnya.
Jika tekanan berlangsung lama, risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor perhotelan dan restoran dapat meningkat seiring turunnya tingkat hunian hotel.
Untuk meredam dampak tersebut, Pemerintah Provinsi Bali perlu menyiapkan sejumlah langkah mitigasi.
“Situasi ini menjadi momentum bagi Bali untuk mempercepat diversifikasi ekonomi dan memperkuat ketahanan sektor lokal,” ujarnya. (Suardika/balipost)










