
DENPASAR, BALIPOST.com – Kasus Infesksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) tengah merebak di Bali. Dinas Kesehatan Provinsi Bali mencatat ada 155 kasus ISPA yang berkembang ke Pneumonia sepanjang Januari 2026. Untuk menghindari penyakit yang disebabkan oleh virus ini ada beberapa tips disarankan oleh dokter spesialis paru.
Dokter Spesialis Paru RSUD Wangaya, Denpasar dr. Ida Ayu Ika Wari Utami, Sp.P saat diwawancarai, Kamis (19/2) menjelaskan, ISPA merupakan kondisi infeksi pada saluran pernapasan yang terjadi secara akut. Penyebabnya didominasi oleh infeksi virus (paling sering) dan infeksi bakteri. Jenis virus yg biasanya menginfeksi seperti Rhinovirus, choronavirus, dan influenza virus.
“Untuk penularan ISPA itu melalui percikan air liur atau yang diistilahkan sebagai droplet, yang keluar pada saat kita bersin atau batuk,” katanya.
Penyakit ini kata dr. Ika sangat rentan pada anak-anak serta orang lanjut usia (lansia). Selain itu penyakit ini juga mudah menyerang pada orang yang memiliki kondisi imunocompremmise (sistem imun yg rendah). Contohnya pada pasien dengan riwayat kanker, riwayat gagal ginjal dan lainnya.
“Umumnya penyakit ini sangat rentan untuk usia anak-anak, lansia serta orang yang memiliki kondisi imunocompremmise,” terangnya.
Demikian dr. Ika menyarankan untuk terhindar dari ISPA bisa dilakukan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Seperti rajin berolahraga, makan makanan dengan gizi seimbang, memakai masker saat keluar rumah, rutin mencuci tangan, dan melakukan imunisasi influenza dan pneumococcus.
Disinggung terkait cara pengobatan, dr. Ika mengatakan, untuk ISPA yang bergejala ringan, bisa dengan berisirahat yang cukup, makan dan minum dengan gizi yang cukup serta mengkonsumsi obat sesuai keluhan. Seperti obat demam jika ada demam serta obat batuk dan flu. Selain itu ia juga manyarankan mengkonsumsi vitamin bila perlu.
Namun demikian bagi yang bergejala sedang hingga berat, seperti sesak misalnya atau kondisi dehidrasi yang biasa terjadi pada anak disarankan segera memerisakan diri ke dokter. “Dengan itu dapat diberikan obat sesuai penyebab yaitu antibiotik atau antivirus dan penangan untuk kondisi kegawatannya,” imbuh dr. Ika. (Widiastuti/balipost)










