
SEMARAPURA, BALIPOST.com – Pascapenutupan permanen TPA Sente per 31 Januari 2026, persoalan sampah residu di Kabupaten Klungkung kian pelik. Terbaru, Pemkab Klungkung melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Klungkung (LHP) mengeluarkan surat permakluman agar desa-desa untuk sementara tidak mengirim sampah residu ke TOSS Center mulai 16 Februari 2026.
Surat tertanggal 13 Februari 2026 yang ditandatangani Kepala Dinas LHP Klungkung, Dewa Komang Aswin, itu menyebutkan penutupan TPA Sente dilakukan sesuai kesepakatan antara Pemkab Klungkung dengan Pemerintahan Desa Adat se-Desa Pikat dan Pemerintah Desa Pikat, Kecamatan Dawan, terkait pemanfaatan TPA Sente untuk pembuangan sampah residu.
Dalam surat tersebut ditegaskan, karena keterbatasan daya tampung TOSS Center serta belum adanya mesin pengolahan memadai, desa-desa diminta sementara menangani sendiri sampah residunya sampai terealisasinya kerja sama pengolahan dengan pihak ketiga.
Kebijakan ini langsung menuai respon beragam dari para perbekel. Sejumlah kepala desa mengaku kebingungan. Pasalnya, sebagian besar desa tidak memiliki fasilitas pengolahan sampah residu. Luas TPS 3R rata-rata hanya sekitar dua are, sehingga tidak memungkinkan untuk menimbun residu dalam jumlah besar.
“Mohon solusi Bapak Bupati dan Bapak Wakil Bupati. Kami di desa tidak punya pengolahan sampah residu. Kalau ditimbun di TPS 3R, tempat tidak memungkinkan. Apakah kami harus menghentikan penjemputan residu?” keluh salah satu perbekel.
Keluhan serupa juga muncul karena beberapa TPS desa disebut sudah penuh. Jika residu tidak diangkut, dikhawatirkan sampah akan menumpuk di jalan-jalan protokol.
Perbekel Tangkas, I Wayan Tilem, dalam grup WhatsApp Klungkung Tanggap Bencana menegaskan perlunya lokasi pasti pembuangan residu untuk seluruh desa di Klungkung daratan.
“Kalau tidak ditangani dengan pasti, desa bisa jadi kotor. Sampah yang ditaruh di pinggir jalan akan dikoyak anjing,” tegasnya.
Sementara itu, Kadis LHP Klungkung Dewa Komang Aswin, Minggu (15/2), mengatakan ada 15 desa yang selama ini mengirim residu ke TOSS Center. Untuk sementara, pengiriman tersebut dihentikan sampai kerja sama dengan pihak ketiga terealisasi.
“Kami sangat memahami kesulitan rekan-rekan perbekel. Namun daya tampung TOSS sangat terbatas, sementara residu belum bisa diolah maksimal dan TPA Sente sudah ditutup. Kami percepat proses kerja sama dengan pihak ketiga. Sudah ada beberapa calon rekanan berminat dan menunggu proses penawaran,” ujarnya.
Menurut Dewa Aswin, volume sampah yang masuk ke TOSS mencapai sekitar 40 ton per hari. Namun sarana prasarana yang ada belum mampu mengolah sampah secara tuntas. Bahkan, muncul keluhan masyarakat terkait bau menyengat dan perubahan warna air sumur di sekitar TOSS.
“Nantinya, pihak ketiga akan menyediakan mesin, tenaga, dan operasional pengolahan. Pemda akan memberikan tipping fee sesuai volume sampah yang diolah. Sedangkan pengambilan sampah dari warga tetap dilakukan oleh pemerintah daerah,” katanya. (Sri Wiadnyana/denpost)










