Petugas melakukan pengasapan (fogging) di salah satu permukiman di wilayah Kota Denpasar. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Musim hujan masih berlanjut. Masyarakat pun diimbau tetap waspada terhadap penyakit yang riskan muncul pada musim hujan. Salah satunya demam berdarah dengue (DBD), terlebih pada Januari ada kenaikan kasus di Denpasar.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Denpasar, jumlah kasus pada Januari 2026 tercatat sebanyak 36 kasus. Jumlah ini mulai naik dibandingkan pada bulan-bulan sebelumnya pada 2025. Dari Oktober 2025 tercatat tren penurunan. Pada September 2025 tercatat 31 kasus, Oktober 15 kasus, November 11 kasus, dan Desember 12 kasus.

Namun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya pada periode yang sama, jumlah kasus DBD pada awal tahun ini menurun. Pada Januari 2025 lalu jumlah kasus DBD mencapai 167 kasus, sedangkan Januari 2026 hanya 35 kasus. Demikian pula pada Februari 2025, tercatat ada 316 kasus dan Februari 2026 tercatat baru 5 kasus.

Baca juga:  Sejumlah Lokasi di Denpasar Alami Pemadaman, Ini Sebabnya

Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar, dr. Anak Agung Ayu Agung Candrawati, M.Kes., Rabu (11/2), mengatakan, kasus DBD berfluktuasi yang bergantung pada cuaca. Namun tahun ini dia melihat kasus cenderung menurun meski kondisi cuaca tidak menentu. “Pada awal tahun biasanya kasus meningkat karena musim hujan. Namun sekarang mulai melandai, walaupun masih fluktuatif karena faktor cuaca,” katanya.

Dalam upaya menekan kasus DBD, pihaknya melakukan berbagai upaya pencegahan yang telah rutin dilakukan. Mulai dari edukasi masyarakat, kegiatan jumantik (juru pemantau jentik), sosialisasi, hingga fogging fokus menggunakan metode ultra low volume (ULV) di wilayah yang ditemukan kasus.

Baca juga:  Semester I 2019, Jumlah Penderita DBD di Jembrana Alami Peningkatan

“Selama ini langkah-langkah sudah dilaksanakan, termasuk fogging fokus saat ada kasus dan kondisi tertentu seperti banjir. Namun kunci utamanya tetap pada masyarakat yakni membiasakan melakukan 3M agar tidak ada genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk,” ujarnya.

Masyarakat diimbau secara rutin memeriksa tempat penampungan air minimal seminggu sekali, seperti bak mandi, pot tanaman, atau wadah lain yang berpotensi menjadi sarang nyamuk aedes aegypti. Pasalnya, telur nyamuk dapat berkembang menjadi nyamuk dewasa dalam waktu satu hingga dua minggu.

Baca juga:  Diduga DBD, Bocah Delapan Tahun Meninggal Dunia

Menurutnya, fogging bukanlah solusi utama untuk memberantas DBD. Fogging hanya berfungsi membunuh nyamuk dewasa dan tidak dapat dilakukan terlalu sering karena berisiko terhadap kesehatan masyarakat. “Fogging tidak mungkin dilakukan setiap minggu, karena selain tidak efektif untuk jentik, juga berpotensi menimbulkan dampak kesehatan jika terlalu sering. Karena itu, peran masyarakat menjaga lingkungan menjadi kunci,” imbuhnya. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN