
DENPASAR, BALIPOST.com – Dua maestro seni, Duk Hyung Yoo dari Korea Selatan dan I Wayan Dibia dari Bali, Indonesia, tengah merancang jembatan budaya lintas negara melalui kerja sama seni.
Pertama, kolaborasi seni antara Seoul Institute of the Arts dan ISI Bali yang telah diperkuat dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU). Karya hasil kolaborasi ini direncanakan tampil dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026.
Kedua, penyelenggaraan kuliah jarak jauh tentang kesenian Bali dengan menghadirkan Profesor I Wayan Dibia sebagai pengajar.
I Wayan Dibia (78), maestro tari Bali dan mantan Ketua STSI Denpasar, dikenal sebagai salah satu pemimpin budaya Bali yang berpengaruh sejak dekade 1980-an.
Pengalamannya bersentuhan dengan seni Barat dan Asia berawal dari undangan Asian Cultural Council (ACC) untuk mengikuti Asian Theatre Workshop di La MaMa, New York.
Ia kemudian meraih beasiswa ACC dan Fulbright-Hays untuk menempuh studi Master dan Doktoral di University of California Los Angeles (UCLA).
Pengalaman panjang Wayan Dibia di Amerika Serikat, termasuk mengajar di College of the Holy Cross, justru mengukuhkan kecintaannya pada seni Bali. Modal inilah yang melahirkan berbagai inovasi dan kolaborasi lintas budaya, di antaranya Body Tjak (1990) bersama Keith Terry (AS), Pralaya (2016) dengan Lata Pada (Kanada), serta Arisi Rice (2022) bersama Aravinth Kumarasamy (Singapura).
Kerja sama yang dirintis melibatkan Seoul Institute of the Arts dan Institut Seni Indonesia (ISI) Bali. Melalui kemitraan ini, mahasiswa dan dosen dari kedua lembaga diharapkan dapat saling berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik seni.
“Dengan memanfaatkan teknologi telematika, kami merancang perkuliahan seni jarak jauh. Kalau dunia medis bisa menangani pasien dari jarak jauh, mengapa seni tidak bisa dipelajari dengan cara serupa,” ujar Prof. Dibia.
Selain pembelajaran daring, kerja sama jangka pendek juga diarahkan pada penciptaan karya seni kolaboratif yang direncanakan dipentaskan dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026. Karya ini diharapkan menjadi simbol pertemuan dua tradisi besar seni Asia dalam satu panggung kreatif.
Prof. Dibia menjelaskan, Duk Hyung Yoo (89) merupakan mantan Rektor Seoul Institute of the Arts dan salah satu tokoh budaya paling berpengaruh di Korea Selatan. Sepanjang kiprahnya, Yoo dikenal sebagai seniman dan pendidik yang berjasa mengangkat seni Asia ke tingkat internasional.
Ia juga tercatat sebagai salah satu dari tiga tokoh Asia penerima John D. Rockefeller III Award (JDR) atas kontribusinya dalam pengembangan dan pemahaman seni Asia di dunia.
Meski sempat hampir satu dekade berkarya di Amerika Serikat dan tampil di ruang seni prestisius seperti La MaMa Experimental Theatre Club di New York, dedikasi Yoo justru semakin kuat untuk memajukan kesenian Korea dan memperjuangkan posisi seniman Asia di panggung global.
Menurut Duk Hyung Yoo, Minggu (8/2), keinginan untuk membangun kerja sama seni dengan Bali sejatinya telah muncul beberapa tahun lalu. Sejumlah rencana bahkan sempat dirancang bersama akademisi Bali, namun tertunda akibat pandemi Covid-19.
Selama berada di Bali, Duk Hyung Yoo bersama jajaran pimpinan Seoul Institute of the Arts melakukan serangkaian kunjungan budaya, antara lain ke Geria Olah Kreativitas Seni (GEOKS) Singapadu, Ubud dan Puri Agung Ubud, serta Taman Budaya Art Center Denpasar. Hasil observasi tersebut mengerucut pada dua agenda utama kerja sama tahun ini. (Ketut Winata/balipost)










