
NEGARA, BALIPOST.com – Hutan Batuagung, Jembrana, Senin (2/2) terasa berbeda dari biasanya. Bukan suara cangkul yang menghantam tanah, bukan pula deretan bibit pohon yang dipanggul ramai-ramai. Yang terdengar justru bunyi desingan berulang kali tali ketapel yang dilepas, melesatkan biji-biji buah ke arah rimbun pepohonan.
Benda sederhana yang identik dengan permainan masa kecil itu, difungsikan oleh sejumlah generasi muda untuk membantu menjaga hutan.
Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Bali bersama PMI Kabupaten Jembrana memilih cara yang tak lazim dalam upaya pelestarian lingkungan. Mereka tidak menanam bibit seperti program penghijauan pada umumnya. PMI justru mengajak ratusan peserta menyebarkan ribuan biji buah-buahan dengan metode “tembak benih” menggunakan ketapel.
Di titik kumpul, ribuan biji buah yang sudah dikumpulkan lebih dulu dibagikan kepada peserta. Ada anggota PMI Bali dan PMI Jembrana, personel BPBD, jajaran Dinas Kehutanan Provinsi Bali, warga Desa Batuagung, hingga para aktivis lingkungan.
Semua membawa misi yang sama: menabur harapan ke dalam hutan, satu peluru biji demi satu peluru biji.
Setelah biji di tangan, ketapel pun dibagikan. Peserta tampak mencoba menarik tali, mengukur arah, lalu melepas. Biji meluncur, masuk ke area hutan yang rimbun.
Tak perlu menggali lubang, tak perlu memikul bibit besar, cukup menembak benih ke titik-titik yang sulit dijangkau.
Untuk mencapai lokasi penyebaran, rombongan harus berjalan jauh. Medannya menantang, naik turun bukit terjal, menembus jalur licin, dengan jarak lebih dari lima kilometer dari pinggiran hutan. Ketika hujan mulai turun, jalur makin berat. Tanah berubah licin, beberapa peserta sempat terpeleset, tapi langkah tetap diteruskan.
Di tengah aktivitas itu, petugas PMI Bali Ni Putu Yuni Andriyani mengatakan alasan metode ketapel dipilih. “Yang kita lakukan saat ini adalah penembakan benih dengan metode ketapel,” ujarnya.
Baginya, cara ini lebih praktis. Peserta tak perlu membawa bibit dalam jumlah banyak dan tak harus menggali tanah jauh ke dalam hutan. Ketapel memungkinkan biji disebar lebih cepat, lebih ringan, dan menjangkau titik yang sulit dilalui.
Warga Desa Batuagung, Ida Bagus Komang Anom, menyambut baik gerakan unik ini. Ia melihat kegiatan tersebut bukan sekadar aksi sesaat, melainkan investasi jangka panjang bagi alam.
“Langkah yang bagus dari teman-teman PMI yang sudah ikut melakukan eco race ini, tidak hanya seremonial, sekaligus memupuk jiwa menjaga kelestarian hutan,” katanya.
Harapan pun dititipkan pada biji-biji kecil yang melesat dari ketapel. Jika kelak tumbuh, pohon buah bukan hanya memperkuat tutupan hutan, tapi juga menjadi sumber pakan satwa liar. Hutan tetap terjaga, mata air tetap mengalir, udara tetap bersih.
Lebih dari itu, PMI juga berharap gerakan sederhana ini ikut menekan risiko bencana. Hutan yang kuat berarti tanah lebih kokoh menahan air, sehingga ancaman banjir dan longsor bisa berkurang. (Surya Dharma/balipost)










