Perajin di Gianyar saat memproduksi kerajinan perak. (BP/istimewa)

​GIANYAR, BALIPOST.com – Industri kerajinan perak di Desa Celuk, Gianyar, kini tengah menghadapi tantangan berat. Lonjakan harga bahan baku perak yang telah menembus angka di atas Rp60.000 per gram mulai meresahkan para pelaku usaha. Kondisi ini dikhawatirkan akan mengoreksi daya saing produk perhiasan lokal di pasar internasional.

​Menanggapi situasi tersebut, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Gianyar melakukan koordinasi ke pemerintah pusat guna mencari solusi atas beban biaya produksi perajin yang kian membengkak.

Kepala Disperindag Gianyar, Anak Agung Gde Raka Suryadiputra, Rabu (28/1), mengatakan, fenomena ini merupakan tren nasional yang dirasakan oleh seluruh pengrajin di Indonesia. Meski biaya produksi melonjak, pihaknya melarang keras penggunaan bahan campuran atau alternatif yang dapat menurunkan kadar perak.

Baca juga:  Empat Pebulu Tangkis Dibiayai Ikut Sirnas

“Kalau kualitas kita diragukan, maka kepercayaan pasar akan jatuh. Ini akan berdampak buruk bagi pangsa pasar kita dalam jangka panjang,” tegas Raka Suryadiputra.

​Menurutnya, reputasi perak Gianyar telah mendunia dan menjaga kualitas adalah satu-satunya cara agar produk lokal tetap diminati meskipun harga jual terpaksa merangkak naik mengikuti harga bahan baku. ​Berdasarkan data dari Disperindag Gianyar, sektor ini memegang peranan vital bagi ekonomi kreatif daerah. Sebab, jumlah perajin mencapai 168 perajin aktif.

Baca juga:  Lima Terdakwa Korupsi BKK DAPM Kediri Dituntut Berbeda

​Kebutuhan bahan baku perak mencapai 12 ton per tahun. Produk unggulan didominasi perhiasan seperti gelang, cincin, kalung, dan anting-anting. Mayoritas menyasar pasar luar negeri (ekspor).

​Mengenai potensi penurunan ekspor, Raka Suryadiputra menjelaskan bahwa volume pengiriman sangat bergantung pada dinamika pasar global. “Jika permintaan luar negeri tetap tinggi, kenaikan harga mungkin tidak terlalu berpengaruh. Namun, jika harga dianggap terlalu mahal, volume ekspor bisa saja terkoreksi,” pungkasnya.

​Saat ini, para perajin berharap pemerintah pusat dapat menstabilkan harga atau memberikan skema insentif agar industri kerajinan perak di Bali tetap bergairah di tengah ketidakpastian harga komoditas global.

Baca juga:  HUT ke-22 HardysCorp, HardysPeduli Digelar di Panti Asuhan Yasa Kerti

​Ketua Asosiasi Perak Gianyar yang juga menjabat sebagai Perbekel Desa Celuk, I Nyoman Rupadana mengungkapkan bahwa selama ini perajin memperoleh bahan baku dari toko perlengkapan di sekitar Celuk dan Denpasar. ​Untuk menyikapi situasi sulit ini, para pengrajin bekerja sama dengan Disperindag, Dinas Koperasi, dan Dinas Tenaga Kerja guna memperkuat ekosistem kerajinan melalui berbagai program strategis diantaranya ​pelatihan desain untuk meningkatkan nilai tambah produk melalui desain tradisional dan modern.

Dilaksanakan pula digital marketing untuk memperluas jangkauan pasar secara mandiri hingga workshop & silver class untuk menjadikan proses pembuatan perak sebagai daya tarik wisata edukasi. (Wirnaya/balipost)

 

BAGIKAN