Jalan di Banjar Sidawa, Desa Tamanbali yang ambles akibat curah hujan tinggi, pada September 2025. (BP/istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sejak Pemerintah Provinsi Bali menetapkan status Siaga Bencana Cuaca Ekstrem pada 12 Desember 2025, ratusan kejadian bencana tercatat terjadi di seluruh kabupaten/kota di Bali. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mencatat total 566 kejadian bencana hingga 22 Januari 2026.

Kepala Pelaksana BPBD Bali, I Gede Teja, menyampaikan bahwa bencana didominasi oleh hujan deras disertai angin kencang, banjir, longsor, dan pohon tumbang. “Intensitas hujan tinggi dan cuaca ekstrem menjadi faktor utama meningkatnya kejadian bencana di hampir seluruh wilayah Bali,” ujarnya.

Baca juga:  Buku dan Film Pendek "Sastra Saraswati Sewana" Diluncurkan di Denpasar

Dari total 566 kejadian, rinciannya meliputi 184 kejadian cuaca ekstrem, 178 pohon tumbang, 88 banjir, 82 longsor, 21 kejadian lain-lain seperti penanganan PPE dan evakuasi jenazah, serta 13 kebakaran gedung dan pemukiman.

Bencana tersebut menimbulkan dampak serius. BPBD Bali mencatat 4 orang meninggal dunia, masing-masing satu WNA terseret arus di Tibubeneng, Badung, dua warga meninggal akibat longsor di Desa Kuwum, Kecamatan Marga, Tabanan, serta satu korban meninggal akibat kebakaran rumah di Denpasar. Selain itu, 5 orang mengalami luka-luka, dengan total 415 bangunan rusak dan estimasi kerugian material mencapai Rp3,7 miliar.

Baca juga:  Besar, Peluang Jadi GM

Secara wilayah, Kota Denpasar mencatat kejadian terbanyak dengan 150 kejadian, disusul Kabupaten Gianyar (80 kejadian) dan Karangasem (67 kejadian). Kabupaten Jembrana mengalami kerusakan bangunan paling banyak dengan 141 unit rusak, sementara kerugian terbesar tercatat di Kabupaten Karangasem mencapai sekitar Rp1,142 miliar.

I Gede Teja mengimbau masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama di daerah rawan banjir, longsor, dan angin kencang. “Kami mengajak masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca, menghindari aktivitas di wilayah berisiko tinggi, serta segera melapor jika terjadi kondisi darurat,” tegasnya.

Baca juga:  Jangan Gengsi Berbahasa Bali

BPBD Bali bersama BPBD kabupaten/kota terus melakukan penanganan darurat, asesmen kerusakan, serta koordinasi lintas sektor guna meminimalkan dampak bencana selama musim hujan dan cuaca ekstrem masih berlangsung. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN