
DENPASAR, BALIPOST.com – Ketergantungan Bali yang terlalu besar pada sektor pariwisata dinilai menjadi sumber kerentanan serius bagi ekonomi dan ketenagakerjaan daerah. Meski masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar hingga 2026, struktur ekonomi yang bertumpu pada satu sektor membuat rentan terhadap guncangan eksternal.
Hal tersebut disampaikan Dr. I Wayan Sukadana, Dosen Program Studi Magister Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana. Menurutnya, pengalaman krisis pandemi, perlambatan ekonomi global, hingga ketidakpastian geopolitik internasional membuktikan bahwa Bali selalu berada di garis depan dampak negatif.
“Pariwisata memang menyerap tenaga kerja besar, tetapi terlalu mengandalkannya justru membuat ekonomi dan sumber daya manusia (SDM) Bali rapuh dalam jangka menengah dan panjang,” ujar Sukadana di Denpasar, Minggu (11/1).
Ia menilai, dampak negatif pariwisata massal kini semakin nyata. Kemacetan kronis, persoalan sampah, menurunnya kualitas destinasi, hingga masalah keamanan menjadi konsekuensi yang sulit dihindari. Di sisi lain, sektor pariwisata juga dinilai belum optimal melahirkan entrepreneur lokal yang kuat dan berdaya tahan tinggi.
Jika ketergantungan ini terus dibiarkan, Bali berisiko terjebak dalam pola pertumbuhan ekonomi yang tidak inklusif dan tidak berkelanjutan. Lapangan kerja memang tersedia, namun mayoritas berada pada sektor dengan produktivitas rendah dan rentan terhadap fluktuasi global.
Sukadana mengingatkan bahwa tanpa diversifikasi ekonomi dan peningkatan kualitas SDM, bonus demografi Bali justru berpotensi berubah menjadi beban sosial dan ekonomi di masa depan.
Sementara itu, data BPS Agustus 2025 menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Bali turun menjadi 1,49 persen, dengan jumlah penduduk bekerja sekitar 2,70 juta orang. Namun, perbaikan tersebut disertai pergeseran tenaga kerja dari sektor pertanian ke perdagangan dan jasa, yang semakin menegaskan dominasi sektor pariwisata dalam struktur ekonomi Bali.
BPS mencatat jumlah penduduk Bali mencapai 4,49 juta jiwa berdasarkan proyeksi Long Form Sensus Penduduk 2020.
Komposisi angkatan kerja di Provinsi Bali pada Agustus 2025 mencapai 2,74 juta orang, terdiri atas 2,70 juta penduduk bekerja dan 40,99 ribu pengangguran. Meski pasar kerja Bali mulai membaik dengan penurunan pengangguran dan peningkatan pekerja di sektor perdagangan, tantangan peningkatan kualitas sumber daya manusia tetap menjadi fokus penting untuk mendukung transformasi ekonomi Bali ke depan.
Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS, jumlah penduduk bekerja meningkat sebanyak 7,71 ribu orang atau 0,29 persen dibandingkan Februari 2025, sementara jumlah pengangguran berkurang 2,14 ribu orang atau 4,96 persen.
“Jika dibandingkan dengan Agustus 2024, angkatan kerja di Bali meningkat 28,62 ribu orang (1,05 persen) dan jumlah penduduk bekerja naik 36,31 ribu orang (1,36 persen),” kata Kepala BPS Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan. (Suardika/bisnisbali)










