Prof. Dr. I Wayan Sugita, M.Si. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Dunia seni dan budaya Bali berduka. Seniman drama gong lawas penuh talenta, Prof. Dr. I Wayan Sugita, M.Si., berpulang pada Selasa (7/1) malam, di RSUD Wangaya Denpasar akibat sakit.

Kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi dunia seni, akademisi, dan masyarakat Bali secara luas.

Prof. Wayan Sugita dikenal luas sebagai seniman drama gong legendaris, khususnya melalui perannya yang sangat kuat dan khas sebagai Patih Agung, karakter yang melekat erat dengan sosok almarhum sepanjang perjalanan karier seninya.

Kabar berpulangnya Prof. Sugita dengan cepat menyebar di kalangan sahabat, kolega, dan komunitas seni. Ucapan belasungkawa pun mengalir deras melalui berbagai platform media sosial sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan dedikasi almarhum.

Berpulangnya Prof. Sugita dibenarkan oleh Rektor Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Prof. Dr. IGN Sudiana, M.Si. Ia menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam atas wafatnya salah satu putra terbaik Bali di bidang seni dan pendidikan.

Baca juga:  Wanita Asal Ukraina Dalam Kasus Penyelundupan 2 Kg Narkoba Diadili

“Kami di UHN I Gusti Bagus Sugriwa merasa sangat kehilangan salah satu putra terbaik yang memiliki keahlian multitalenta. Prof. Sugita merupakan pragina drama gong, dalang wayang lemah, penari topeng bondres, topeng Sidhakarya, sekaligus sastrawan,” ujar Prof. Sudiana seraya menyampaikan belasungkawa atas berpulangnya almarhum.

Menurutnya, Prof. Sugita merupakan guru besar di bidang seni yang kiprahnya sangat luas, baik di ranah akademik maupun seni pertunjukan. Almarhum kerap dipercaya sebagai juri berbagai perlombaan seni budaya, serta menjadi narasumber sastra dan seni di berbagai forum.

“Bagi kami, Prof. Sugita selalu menginspirasi dalam hal berkarya. Sosok seperti beliau sangat sulit tergantikan. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas pengabdian dan dedikasi almarhum selama ini kepada lembaga dan dunia pendidikan,” tambah Prof. Sudiana.

Baca juga:  Ni Putu Sulastri, Seniman Drama Gong Lawas Berpulang

Duka mendalam juga disampaikan oleh Ketua Paguyuban Pecinta Seni Drama Gong Lawas, Anak Agung Gede Oka Aryana, S.H., M.Kn. Ia mengaku kehilangan sosok Patih Agung yang selama ini menjadi panutan para seniman drama gong lawas di Bali.

“Prof. Sugita merupakan salah satu pemeran drama gong lawas yang sangat menginspirasi, khususnya bagi pemeran Patih Agung lainnya dalam pementasan drama gong di Bali. Kiprah dan totalitas beliau di atas panggung menjadi teladan yang sulit dilupakan,” ujarnya, Kamis (8/1).

Aktif dalam Regenerasi Seniman

Selain mengabdi sebagai dosen di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Prof. Wayan Sugita juga dikenal sangat aktif dalam berbagai kegiatan seni dan budaya di Bali. Almarhum terlibat langsung dalam banyak pementasan drama gong serta kegiatan kesenian lainnya, baik sebagai pemain maupun pembina.

Baca juga:  Besok, Drama Keraton ‘’Jayaprana’’ Tayang Perdana di Bali TV

Prof. Sugita juga memiliki perhatian besar terhadap regenerasi seniman drama gong. Ia secara konsisten melibatkan seniman-seniman muda dalam pementasannya, sekaligus membimbing mereka agar mampu memahami nilai estetika, filosofi, dan etika dalam seni pertunjukan Bali. Almarhum dikenal memiliki kemampuan improvisasi yang luar biasa di atas panggung, terutama saat memerankan karakter Patih Agung yang menjadi ciri khasnya.

Dalam perjalanan karier akademiknya, Prof. Sugita tercatat pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Dharma Acarya UHN I Gusti Bagus Sugriwa. Setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai dekan, almarhum lebih banyak mengabdikan diri pada kegiatan pengajaran, khususnya mengampu mata kuliah Bahasa Bali pada Program Sarjana (S1) dan Magister (S2).

Kepergian Prof. Dr. I Wayan Sugita, M.Si. menjadi kehilangan besar bagi Bali. Dedikasi, karya, dan keteladanan almarhum akan terus dikenang serta menjadi inspirasi bagi generasi seniman dan akademisi berikutnya. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN