Pelepasliaran penyu dewasa yang sempat ditangkap polisi terkait aksi penyelundupan bewan dilindungi beberapa waktu lalu. Penyu mati sering ditemukan dengan penyebab utama pencemaran laut. (BP/istimewa)

NEGARA, BALIPOST.com – Kasus kematian penyu lekang (Lepidochelys olivacea) di wilayah pesisir Kabupaten Jembrana dilaporkan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hingga November 2025, jumlah penyu yang ditemukan mati telah mencapai belasan ekor.

Koordinator Kelompok Konservasi Penyu (KKP) Kurma Asih, Desa Perancak, I Wayan Anom Astika Jaya, Selasa (11/11) mengatakan penyebab utama kematian penyu sebagian besar berkaitan dengan pencemaran laut, terutama akibat sampah plastik.

“Tahun ini ada tiga penyu yang mati berturut-turut. Dari hasil pemeriksaan, ketiganya menunjukkan paru-paru tersumbat oleh sampah plastik. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Kita harus menjaga lingkungan dari hulu agar sampah tidak berakhir di laut,” jelas Anom yang juga yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Asosiasi Kelompok Pelestari Penyu Bali.

Baca juga:  Keluar, Hasil Pemantauan 12 Orang Kontak Erat dengan WN Jepang Positif COVID-19

Kasus terbaru terjadi pada September lalu, ketika seekor penyu ditemukan dalam kondisi membusuk di pesisir Pantai Perancak, Kecamatan Jembrana.

Selain persoalan sampah, Anom juga menyoroti praktik perburuan ilegal yang masih terjadi di beberapa wilayah. Ia menegaskan, langkah serius dari berbagai pihak diperlukan agar penyu tetap dapat hidup dan berkembang biak di habitat aslinya.

Menurut Anom, dengan dibentuknya Asosiasi Kelompok Pelestari Penyu Bali diharapkan mampu memperkuat koordinasi antar-kelompok pelestari penyu yang sebelumnya bergerak secara terpisah. “Selama ini, masing-masing kelompok berjalan sendiri-sendiri.

Baca juga:  Gubernur Koster Tuntaskan Konflik Pertanahan 93 Tahun di Banjar Mumbul

Kini, 32 kelompok pelestari penyu di Bali telah bergabung dalam satu wadah. Melalui asosiasi ini, kami dapat menyatukan pandangan tentang konservasi dan melakukan evaluasi agar upaya pelestarian lebih maksimal,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberadaan asosiasi tersebut juga menjadi sarana edukasi kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dalam menjaga kelestarian penyu dan lingkungan laut. “Harapan kami, dengan semakin kuatnya sinergi antar kelompok, penyu bisa semakin lestari dan praktik perburuan liar dapat ditekan,” pungkasnya. (Surya Dharma/balipost)

Baca juga:  Punya Gedung Baru, Anggota DPRD Bangli Diharap Lebih Produktif
BAGIKAN