
DENPASAR, BALIPOST.com – Kabel semrawut menjadi salah satu problematika estetika di kawasan pariwisata. Desa Adat Intaran menginisiasi penataan kabel semrawut dengan menyiapkan tiang berukuran 9 meter.
“Sebenarnya kami sudah mengawali jauh-jauh hari sebelumnya, tapi hanya sebatas kemampuan kami. Kami membuat satu tiang bersama, yang launching 4 bulan lalu di Desa Adat Intaran,” ujar Bendesa Adat Intaran, Gusti Agung Alit Kencana, Sabtu (30/8).
Ia mengajak semua provider menggunakan tiang bersama itu karena sangat mengganggu ketika ada upacara agama di Intaran. “Karena tentunya di Bali tidak terlepas dari hal tersebut. Misalnya saat upacara ngaben, kabel melintang rendah, mengganggu, makanya kami buatkan tiang yang berukuran 9 meter sehingga mereka harus menggunakan tiang itu bersama,” ujarnya.
Setiap ada pelanggan baru dan memerlukan pemasangan tiang baru, terbentuklah rumpun tiang, yang juga mengganggu estetika. “Telajakan masyarakat sudah habis ditanam tiang. Sehingga sulit untuk memasang penjor setiap 6 bulan sekali. Itu kesulitan kita karena sudah kena kabel, dan kabel terlalu rendah,” ujarnya.
Menurutnya, dengan menyediakan tiang 9 meter, dapat menguntungkan provider pula. Sebab jika ada pelanggan baru, maka provider tidak perlu memasang tiang dan kabel lagi.
“Tinggal connect, itu jauh lebih bagus. Kalau misalnya pelanggan menghentikan langganannya, biasanya mereka tinggalkan begitu saja kabelnya, tapi kami akan merapikan, kami punya orang- orang untuk merapikan itu, sehingga tidak terjadi kesemrawutan,” ujarnya.
Sementara itu, Sekda Denpasar Ida Bagus Alit Wiradana mengatakan, Pemkot akan membangun fasilitas utilitas kabel bawah tanah dan Sanur menjadi kawasan percontohan. Tahun ini akan diselesaikan dengan sistem dating.
Untuk menata kawasan wisata Sanur, Pemkot akan kolaborasi yang baik untuk membangun infrastruktur dan SDM, sehingga akan menjadi satu kesatuan yang terpadu. Prioritas pembangunan kawasan Sanur diharapkan memberi dampak yang baik bagi masyarakat. (Citta Maya/balipost)