
DENPASAR, BALIPOST.com – Ribuan orang yang memadati depan Mapolda Bali masih menyuarakan keresahan dan tuntutan pada Sabtu (30/8) pukul 12.20 WITA. Dalam orasi salah satu demonstran, disuarakan kemarahan, rasa kapok, dan kemuakan massa terhadap situasi bangsa saat ini, terutama menyangkut insiden tewasnya seorang ojek online, Affan Kurniawan (21) karena terlindas kendaraan taktis (rantis) Brimob Polda Metro Jaya, Kamis (28/8).
“Kami marah, kami kapok, kami muak, pak…,” demikian sekelumit pernyataan seorang pendemo berambut gondrong yang langsung didukung ribuan orang yang hadir.
Ia meminta agar aparat bisa berbicara dari hati ke hati terkait situasi ini. “Marilah kita bicara dari hati ke hati, pak. Rakyat sudah marah, sakit pak…,” serunya.
Pendemo kemudian menyuarakan “pembunuh” berulang kali merujuk pada peristiwa tewasnya Affan Kurniawan karena terlinda kendaraan taktis (rantis) Brimob Polda Metro Jaya, Kamis (28/8) malam. “Mayoritas masyarakat Indonesia sudah tidak percaya dengan instansi kepolisian, pak. Satu harapan kami pak, pandang kami sebagai manusia pak… pandang kami sebagai manusia,” katanya.
Ribuan orang memadati Mapolda Bali, Jl. WR Supratman, Denpasar pada Sabtu (30/8) pagi. Mereka merupakan massa aksi yang mengekspresikan keprihatinan terhadap nasib bangsa dan insiden ojol tewas terlindas kendaraan taktis (rantis) Brimob Polda Metro Jaya, Kamis (28/8) malam.
Dalam aksi yang dimulai pada 10.30 WITA itu, ada sejumlah tuntutan yang disuarakan oleh para pendemo.
Tuntutan yang disuarakan dengan menggunakan alat pengeras suara itu antara lain meminta agar semua tunjangan DPR dicabut, gaji DPR agar disamakan dengan gaji buruh, batalkan semua kenaikan pajak rakyat, lawan militerisme dan kekerasan polisi, serta bebaskan demonstran yang ditahan.
Aksi massa hingga berita ini diturunkan masih berlangsung. Demonstrasi dikawal ketat aparat kepolisian, TNI, dan pecalang. Mereka tampak siaga di depan gerbang Mapolda Bali.
Dari pantauan di lapangan, situasi masih kondusif. Para demonstran tampak menyuarakan tuntutan lewat pengeras suara.
Massa Aksi Tidak Anarkis
Sebelumnya, usai apel yang digelar di Makodam IX/Udayana, Sabtu (30/8), Gubernur Bali, Wayan Koster, meminta agar massa aksi tidak anarkis dalam menyalurkan aspirasinya. Ia meminta Kepolisian Daerah Bali dan jajaran untuk mengawal secara humanis aksi demontrasi yang akan dilakukan oleh sejumlah elemen masyarakat agar tidak menciptakan ketegangan baru.
Ia meminta Kapolda Bali, Inspektur Jenderal Polisi Daniel Adityajaya, dan jajaran mengelola aksi tersebut agar aspirasi masyarakat bisa tersalurkan dan tidak terjadi anarkisme.
“Kapolda dan jajaran bisa mengelola dengan baik masyarakat yang menyampaikan aspirasi, jangan sampai menimbulkan ketegangan baru. Agar diterima dengan baik, didengar, dibahas sehingga semua mendapat tempat dan ruang agar membangun Bali bersama-sama,” katanya. (Didit/balipost)