Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah. (BP/Dokumen Antara)

MOJOKERTO, BALIPOST.com – Potensi pemagangan tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri masih terbuka lebar. Hal ini disebabkan banyak negara kekurangan tenaga kerja. Demikian disampaikan Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah, Sabtu (22/6).

Ia mengungkapkan pada 2023 penempatan pemagangan di luar negeri 270.000. “Artinya, sumbangsih penempatan luar negeri itu cukup tinggi di saat kita sedang berupaya sangat serius menindaklanjuti undang-undang cipta kerja yang keinginannya adalah penciptaan lapangan kerja dengan mengklik lapangan kerja baru investasi baik dari dalam maupun di luar negeri,” ujarnya dikutip dari Kantor Berita Antara.

Baca juga:  Kasus BLBI, Kerugian Negara Capai Seratusan Triliun

Ida menyebutkan Indonesia banyak sekali mendapatkan limpahan penduduk usia produktif. Sedangkan di banyak negara sedang mengalami kekurangan tenaga kerja.

Ia mengemukakan, beberapa negara yang sedang mengalami kekurangan tenaga kerja tersebut di antaranya Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara di Eropa. “Sementara di Indonesia sedang melimpah penduduk usia produktif, tapi di sisi yang lain banyak sekali negara yang sedang mengalami membutuhkan tenaga kerja artinya pasar kerja itu tidak hanya ada di dalam negeri tetapi juga ada di luar negeri,” katanya di Mojokerto, Jawa Timur.

Baca juga:  Defisit Negara Mencapai 4,51 Persen

Ida menyebut banyak juga perusahaan yang masih kekurangan tenaga ahli, ditambah lagi investasi-investasi baru yang masuk Indonesia karena ada program hilirisasi yang dilakukan oleh pemerintah.

“Itu membutuhkan tenaga kerja yang tidak sedikit setiap tahun membutuhkan tenaga ahli yang cukup banyak,” katanya.

Ia mengatakan sesungguhnya lapangan pekerjaan tidak tersedia, persoalannya terkait dengan kemampuan lulusan output dari pendidikan vokasi menjawab kebutuhan pasar kerja.

Baca juga:  PAN Pastikan Megawati Tak Hadir di Silahturahmi Bersama Presiden

“Dari data, lulusan SMK SMA itu menyumbangkan tingkat pengangguran terbuka kita 18 persen. Artinya bapak Ibu bukan lapangan pekerjaan yang tidak tersedia yang tidak tersedia adalah tenaga kerja yang skill dan kompetensinya sesuai dengan kebutuhan pasar kerja,” katanya. (kmb/balipost)

BAGIKAN