A.A Ketut Jelantik, M.Pd. (BP/Istimewa)

Oleh  A.A. Ketut Jelantik, M.Pd.

Siswa adalah pribadi yang unik. Secara kodrati, mereka memiliki karakteristik yang berbeda. Tidak seorang pun yang memiliki kuasa untuk mengubah kodrati itu. Meskipun guru memiliki hak otonom untuk membimbing dan mendidik mereka di sekolah, seorang guru pun tidak berhak mengubah hak kodrati tersebut. Tugas utama guru memberikan “ruang” dan sekaligus mendampingi siswa agar tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodratnya.

Perihal kodrat siswa sejalan dengan filasat Among yang lahir dari pemikiran Ki Hajar Dewantara, tokoh Pendidikan Indonesia. Filsafat Among merupakan konvergensi dari filasafat progresivisme tentang kemampuan kodrati anak untuk mengatasi problematika kehidupan melalui pemberian kebebasan berpikir yang seluas-luasnya.

Jika ditelisik lebih seksama, sesungguhnya pembelajaran yang berpusat pada kebutuhan siswa-yang dalam kurun tiga tahun terakhir menjadi pusat perhatian sekolah dan selanjutnya diimplementasikan dalam bentuk pembelajaran terdiferensiasi, adalah bentuk implementatif Filsafat Among Ki Hajar Dewantara. Alasannya, pembelajaran berdiferensiasi memberikan ruang terbuka bagi siswa untuk menentukan sendiri cara belajarnya.

Dalam sejumlah referensi yang diterbitkan oleh Kemendikbudristek, proses pembelajaran yang berpusat pada kebutuhan peserta didik paling tidak harus memenuhi beberapa persyaratan. Diantaranya bagaimana guru dalam (1) menyusun perencanaan pembelajaran, (2) melaksanakan pembelajaran dan bentuk assessmentnya, (3) mengelola kelas serta, (4) memberikan dukungan sosial emosional kepada siswa.

Keempat komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Artinya, proses pembelajaran yang berpusat pada kebutuhan siswa harus memenuhi keempat indikator tersebut. Tulisan ini mencoba untuk mengelaborasi salah satu indikator yang berperan penting dalam pelaksanaan pembelajaran yang berpusat pada kebutuhan siswa yakni pentingnya memberikan dukungan sosial dan emosional bagi siswa.

Baca juga:  Pergolakan Perempuan Bali Saat Pandemi

Sekolah adalah miniatur kehidupan sosial. Apapun bentuk daur kehidupan manusia yang terjadi di tengah masyarakat juga berlangsung di sekolah. Makanya sangat penting bagi guru untuk membangun kesadaran kolektif siswa tentang hidup dan kehidupan. Siswa harus menyadari bahwa mereka hidup dalam lingkungan yag tidak kedap perubahan. Karenanya guru harus mampu menyadarkan siswa tentang pentingnya membangun jejaring, berkolaborasi dengan orang lain.

Asupan tentang pengembangkan sikap empati harus terus dibangun dan dipupuk melalui praktik baik yang secara nyata bisa dirasakan oleh siswa. Dengan demikian, mereka akan tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang utuh.

Karakter seperti ini akan sangat berguna bagi siswa ketika pada saatnya nanti mereka harus bergumul dengan hidup dan kehidupan sosial lingkungannya. Hal ini tentunya sejalan dengan American Academy of Pediatric (dalam Nurmalitasari, 2015) yang menyebutkan perkembangan sosial-emosional bukan saja mengarah pada kemampuan anak untuk memiliki pengetahuan dalam mengelola dan mengekspresikan emosi dengan baik, mampu menjalin hubungan dengan anak-anak dan orang dewasa disekitarnya, pada saat yang sama mereka juga secara aktif mampu mengeksplorasi lingkungan melalui belajar.

Baca juga:  CEO Message #26, Award: Be The Best!

Menurut hemat penulis, paling tidak ada dua implikasi sebagai dampak pemberian dukungan sosial emosional kepada siswa. Pertama, Terbangunnya kepercayaan diri; Memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara bebas mengekspresikan ide, gagasan, karya merupakan salah satu bentuk dukungan sosial emosional yang bisa diberikan oleh guru.

Memberikan ruang untuk berekspresi tentu akan sangat berdampak pada kebiasaan siswa untuk menghilangkan prasangka buruk kepada orang lain. Memberikan umpan balik berupa pujian, penghargaan, penilaian, atau mungkin koreksi terhadap apa yang sudah dilakukan siswa merupakan bentuk riil dukungan dan sekaligus asupan sosial emosional yang bisa diberikan. Guru secara sadar harus menyampaikan kepada siswa bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar.

Kedua, Terbentuknya sikap positif; Dukungan sosial emosional yang memadai akan menjadi ladang persemaian bagi tumbuh suburnya kesadaran siswa tentang kesetaraan yang dilandasi oleh sikap positif. Guru harus memastikan bahwa kesetaraan perlakuan terhadap seluruh siswa adalah keniscayaan. Kondisi ini mengharuskan pelibatan aktif seluruh siswa dalam proses pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas.

Pelibatan seluruh siswa akan berdampak positif bagi siswa karena mereka merasa dihargai dan setara dengan teman-temannya yang lain. Apapun bentuk kreativitas dan produk yang dihasilkan harus dihargai secara proporsional.

Memperlakukan siswa secara adil, bukan dimaksudkan untuk menyamaratakan, namun lebih pada upaya untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menghargai dan sekaligus merayakan perbedaan. Fakta adanya perbedaan sosial ekonomi, adat budaya bahkan agama dan kepercayaan haruslah dipandang sebagai konsekuensi dari kemahakuasaan Tuhan yang tak terbatas.

Baca juga:  Prihatin dengan Kondisi Alam, Siswa SMA 1 Denpasar Ciptakan Semen Ramah Lingkungan

Memberikan apresiasi terhadap ide atau gagasan yang disampaikan tersebut bukan saja menjadi asupan penting bagi siswa untuk terus bertumbuh menjadi sosok kritis, namun juga memotong fenomena remaja berpikir “template” atau berpikir sesuai dengan arahan guru, atau sesuai dengan sintak yang telah ditetapkan. Memberikan dukungan sosial emosional bagi siswa bisa dilakukan oleh seluruh warga sekolah. Kepala sekolah, guru, tendik bahkan juga wajib diberikan oleh para orang tua.

Dukungan sosial emosial akan memberikan dampak yang luar biasa bagi anak-baca siswa. Mereka bukan saja akan tumbuh menjadi pribadi yang penuh welas asih, semangat, namun sekaligus memiliki resiliensi yang tinggi untuk menghadapi jaman yang dipenuhi dengan disrupsi.

Kesimpulan yang bisa ditarik dari tulisan ini adalah dukungan sosial emosional akan membentuk siswa untuk tumbuh dan berkembang menjadi sosok yang berkarakter, terampil, memiliki integritas sekaligus menjadi sosok yang kritis, Dengan kata lain akan tumbuh menjadi sosok siswa dengan profil pelajar Pancasila.

Penulis, Pengawas Sekolah Dikpora Bangli, juga Fasilitator Sekolah Penggerak A3 Kemendikbudristek

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *