Ketua Alumni Maha Kawi Universitas Dwijendra, Ir. Ida Bagus Sindhura Riana. (BP/kmb)

DENPASAR, BALIPOST.com – Arsitektur Tradisional Bali merupakan salah satu etnis arsitektur Nusantara, telah tumbuh dan berkembang sesuai dinamika zaman. Sejak zaman pra-Hindu, zaman kerajaan Bali Kuno, zaman Kerajaan Bali di bawah pengaruh Majapahit, zaman kolonial, zaman kemerdekaan, zaman tourist dan zaman globalisasi, semuanya telah memberikan corak dan makna, datang dan pergi untuk menjadi pelengkap dan kenangan. Namun demikian, arsitektur Bali adalah arsitektur yang tumbuh, berkembang, dan dipertahankan di Bali mengisi sejarah, ruang dan waktu dari masa ke masa.

Sebagai wujud arsitektur Bali, globalisasi dan perubahan yang cepat dalam segala aspek dapat mempengaruhi eksistensi arsitektur tradisional Bali. Oleh karena itu, agar arsitektur tradisional Bali dapat memberikan jati diri dan pemaknaan pada arsitektur kekinian, maka diperlukan upaya-upaya eksplorasi dan konservasi.

Ketua Alumni Maha Kawi Universitas Dwijendra, Ir. Ida Bagus Sindhura Riana, mengatakan bahwa arsitektur tradisional Bali akan selalu mengikuti perkembangan zaman, namun tidak meninggalkan pakem-pakem yang telah tertera dalam sastra. Sebab, arsitektur tradisional Bali adalah suatu ruang dan waktu yang menjadi keselarasan antara manusia dengan alam lingkungannya. Apalagi arsitektur tradisional Bali dilandasi dengan adat, budaya, dan sastra yang diyakini dalam Agama Hindu yang selaras dengan lingkungan. Sehingga, nilai-nilai ergonomi sangat nampak dan dirasakan di dalam arsitektur tradisional Bali.

Baca juga:  Tingkatkan Kualitas Naker dan Pertanian Jadi Program Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun

“Jadi segala sesuatunya diyakini dengan sastra-sastra, mengikuti aturan-aturan, pakem-pakem, dengan menggunakan sikut, ukuran, dimensi, itu semuanya berdasarkan keselarasan antara manusia dan lingkungannya. Konsep Tri Hita Karana, bagaimana hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama dan manusia dengan lingkungannya itu yang tertera dan nampak dalam arsitektur tradisional Bali,” ujar Riana dalam Dialog Merah Putih Bali Era Baru “Keberadaan Arsitektur Tradisional Bali di Era Modern”, di Warung Coffee 63 A Denpasar, Rabu (17/4).

Narasumber lainnya arsitek Bali, Ir. I Gusti Ngurah Bagus Mudita mengatakan, perkembangan arsitektur tradisional Bali tidak terlepas dari beberapa perkembangan zaman. Mulai dari zaman kerajaan, zaman Rsi Markandya, Rsi Mpu Kuturan, dan Rsi Dwijendra yang memberikan masukan untuk tatanan arsitektur yang sudah ada.

Baca juga:  Bali Perlu “Sipeng” Wisata Mendaki Gunung Cegah Kerusakan “Sekala-Niskala”

Ia menegaskan bahwa arsitektur tradisional Bali akan terus berkembang sesuai dengan zamannya. Namun, arsitektur lampau yang penuh dengan aturan dan makna akan tetap dijadikan landasan. Meskipun dipadukan dengan perkembangan teknologi dan bahan-bahan yang tidak lagi bergantung dengan alam. Sehingga, keselarasan alam tetap terjaga dalam perkembangan arsitektur Bali.

Dikatakan, bahwa selama ini kontribusi arsitektur tradisional Bali sangat luar biasa dalam mempertahankan arsitektur Bali. Ini dapat dibuktikan bahwa wisatawan yang datang ke Bali masih bisa dan kagum dengan arsitektur tradisional Bali. Seperti, di Penglipuran, di Bugbug, Pegringsingan, dan lainnya. Tidak ada wisatawan yang datang ke Bali kagum dengan arsitektur modern yang ada di Bali. “Mari kita jaga arsitektur tradisional Bali yang sangat adi luhung ini,” tegasnya.

Sementara itu, Arsitektur Bali lainnya, Ir. Ida Bagus Suandika Manuaba, mengatakan mengapresiasi kebijakan Pemerintah Provinsi Bali melalui Perda Nomor 5 Tahun 2005 tentang Persyaratan Arsitektur Bangunan Gedung di Bali. Melalui payung hukum ini bangunan di Bali hingga saat ini masih konsisten tidak boleh melebihi dari ketinggian pohon kelapa. Ini artinya kebijakan tersebut sangat bermanfaat untuk kelangsungan Pulau Bali sebagai daerah tujuan wisata dunia.

Baca juga:  Pelaku Joged Bumbung Seksual Perlu Ditindak

Apabila arsitektur bangunan ini tidak dilakukan dikhawatirkan Bali tidak lagi seperti Bali pada saat ini. Terbukti, kunjungan wisatawan ke Bali untuk menikmati keindahan alam dan budaya Bali, termasuk di dalamnya bangunan arsitektur tradisional Bali terus meningkat.

Dikatakan, arsitektur tradisional Bali saat ini sudah mulai menjadi sebuah mode/model bagi negara lain. Seperti di Malaysia. Hanya saja, arsitektur tadisional Bali tetap mataksu. Karena dalam proses pembangunannya tetap menggunakan pakem Hindu Bali. Salah satunya melalui proses upacara sekala-niskala. Untuk itu, pihaknya berharap agar pemerintah tetap mempertahankan aturan yang sudah ada. Jangan sampai ada wacana mengkerdilkan regulasi syarat pembangunan arsitektur tradisional Bali yang sudah berlaku saat ini. Justru diperketat dengan melakukan pengawasan. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN