Ilustrasi - Gempa bumi yang tercatat oleh seismometer. (BP/Ant)

JAKARTA, BALIPOST.com – Teknologi penginderaan jauh atau remote sensing dimanfaatkan untuk memperkirakan bahaya sesar sebagai upaya menyelamatkan penduduk dari ancaman gempa bumi.

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Nurani Rahma Hanifa mengatakan, BRIN bekerja sama dengan British Geological Survey (BGS) terkait riset teknologi tersebut dan telah dituangkan dalam publikasi ilmiah bersama. “Kami berharap hal ini dapat menurunkan angka kematian dan kerusakan fasilitas untuk menyelamatkan masyarakat dengan menggunakan data sains yang kami miliki melalui remote sensing,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, dikutip dari kantor berita Antara, Kamis (1/2).

Baca juga:  Masuk Daerah Rawan, BNPB Gelar Simulasi Gempabumi dan Tsunami di Tanjung Benoa

Ahli geologi bidang multi-hazard dan remote sensing BGS Ekbal Hussain mengatakan teknologi yang dimiliki oleh BGS saat ini dapat mengukur pola pergerakan tanah dan rincian pecahan gempa setelah terjadi gempa bumi dari luar angkasa menggunakan penginderaan jauh.

“Melalui pemodelan terperinci ini dapat membantu kita memahami bahwa gempa bumi memiliki energi yang dilepaskan, tetapi ada juga energi yang tersimpan di dalam bumi,” kata Ekbal.

Baca juga:  Bali United Ditundukkan Borneo FC

Terkait Sesar Lembang, lanjut dia, penginderaan jauh dapat memperkirakan bahaya dari Sesar Lembang karena dapat memantau seberapa banyak energi yang masih tersimpan dan pada akhirnya dilepaskan saat terjadinya gempa bumi.

Ekbal berharap pemanfaatan penginderaan jah dapat menyelamatkan banyak nyawa mengingat kerentanan terhadap gempa bumi bersifat dinamis.

Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Adrin Tohari mengungkapkan gempa Cianjur yang terjadi pada tahun 2022 punya hal menarik untuk diteliti karena sampai saat ini belum diketahui lokasi sesarnya, namun dampak kerusakan akibat sesar itu sangat luas.

Baca juga:  Raka Sandi dan 4 Tokoh Dilantik Jadi DKPP

Pada 2023 BRIN meneliti untuk menentukan di mana letak urat gempa utama dari peristiwa yang terjadi dua tahun lalu tersebut. “Indikasi sudah ada, namun belum ada garis lurus karena terkubur oleh endapan gunung api yang tebal, aktivitas sulit dideteksi,” kata Adrin.

Lebih lanjut dia berharap implementasi teknologi penginderaan jauh bisa membantu para ilmuwan untuk lebih memahami potensi dan risiko Sesar Lembang di wilayah Bandung Raya. (Kmb/Balipost)

BAGIKAN