Pengurus PHRI Kota Denpasar dan Ketua PHRI Bali, Cok Ace saat pelaksanaan Rakercab I PHRI Kota Denpasar. (BP/may)

DENPASAR, BALIPOST.com – Para pelaku usaha pariwisata khususnya pemilik hotel dan restoran didorong bergabung ke asosiasi agar lebih cepat dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan (green tourism) di Denpasar. Sebab, lewat asosiasi, para pelaku pariwisata bisa memiliki upaya yang sama untuk mewujudkan pariwisata berkualitas itu.

Ketua PHRI Kota Denpasar IB. Sidharta, Jumat (22/12) mengatakan, saat ini anggota PHRI Denpasar terdiri dari 36 hotel berbintang dan restaurant. Keanggotaan tersebut masih jauh dari jumlah hotel berbintang yang mencapai 60-an hotel di 2023.

Data BPS pada 2022 sebanyak 40. Namun jumlah hotel nonbintang dan akomodasi lainnya di Denpasar, yaitu 153 pada 2022 berdasarkan data BPS sehingga totalnya mencapai di atas 300. “Tugas kita adalah mengejar keanggotaan tersebut,” ujarnya.

Untuk menuju tujuan tersebut menurutnya sudah banyak kriterianya dari berbagai lembaga namun ia ingin memulai dari internal PHRI sendiri. Anggota harus memiliki komitmen dan kekuatan untuk mewujudkan pariwisata berkualita dan berkelanjutan. “Kualitas bukan hanya soal harga tapi juga value, nilai-nilai, merasa worth it engga dia mengeluarkan seharga itu, dan juga kemanfaatan pariwisata itu, paling tidak terhadap hotel tersebut, keluarga besar hotel tersebut, pada lingkungan sekitarnya, Sanur, tenaga kerja, perlindungan kepada lingkungan, konservasi budaya, kita start dari kita,” ungkapnya.

Baca juga:  Pencabutan PPKM Disambut Gembira Pelaku Pariwisata

Dengan kerja sama berbagai pihak ia berharap green tourism dapat dicapai. Hal itu harus dilakukan karena sumbangan pariwisata terhadap PAD Denpasar cukup besar yaitu 45 persen sehingga pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan tak membawa dampak negatif bagi lingkungan alam dan sosial di Denpasar.

“Kontribusi ini kita syukuri, jadi bukan beban tapi justru kita ingin mendapatkan perhatian dari pemerintah Kota Denpasar agar bersama-sama memperhatikan perkembangan pariwisata khususnya yang ada di Sanur. Karena Bali sudah menjatuhkan pilihan pada sektor pariwisata, 65 persen ekonomi adalah dari tourism. Sanur misalnya adalah daerah sivilasisi lama, dulu petani dan nelayan, lalu datang turis dan terjadi peningkatan,” ungkapnya.

Baca juga:  Menteri Energi, Iklim dan Lingkungan Inggris Puji Pelestarian Kawasan Mangrove Bali

Bagi Ketua PHRI Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, pariwisata berkualitas adalah pariwisata yang memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Bali. “Kalau tidak, untuk apa membangun pariwisata,” ujarnya.

Sementara berkelanjutan adalah tidak merusak sumber daya yang dimiliki. Bali mempunyai alam yang indah yang dijaga dengan berbagai upacara.

Bali juga memiliki budaya, agar tidak tercerabut dari akar budaya Bali walaupun budaya tidak bersifat statis, namun mengalami perkembangan. Yang ketiga adalah manusia Bali jangan sampai kehilangan ke-Bali-nanya. “Ini yang kita harapkan dari pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan,” ujarnya.

Baca juga:  Terapkan Teknologi Pertanian, Sejumlah Sayuran Tabanan Bisa Tembus Hotel

Untuk mewujudkan hal itu, ia berharap pelaku usaha akomodasi dan restaurant memiliki kesadaran untuk berasosiasi agar dapat bersama – sama mencapai tujuan tersebut.

Kepala Dinas Pariwisaata Denpasar Ni Luh Putu Riyastiti, S.S., M.Par.mengatakan dalam rangka mewujudkan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan itu diperlukan kerja keras semua pihak, tidak hanya dari pemerintah namun juga bersama stakeholder pariwisata salah satunya adalah PHRI.

“Melalui rakercab PHRI kita berharap bisa menghasilkan rekomendasi yang bisa dikerjakan bersama – sama, jadi pembangunan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan itu memerlukan komitmen dari semua pihak untuk bisa membangun pariwisata sesuai yang dicita-citakan, pariwisata budaya, sesuai dengan Tri Hita Karana, dan nilai nilai kebudayaan Bali yang tidak bisa hilang diputus oleh waktu,” ujarnya. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN