Dua wisatawan mancanegara menuju ke pertokoan di Jalan Sulawesi, Denpasar, Selasa (26/4/2023). (BP/Dokumen)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kembali meningkatnya kasus Covid-19 di Singapura dikhawatirkan mengganggu pariwisata Bali yang baru mulai pulih. Deteksi dini di pintu masuk bandara perlu ditingkatkan. Selain itu, pelaku pariwisata sebaiknya menggunakan masker untuk mencegah penularan.

Ketua BTB IB Agung Partha Adnyana, Rabu (6/12) mengatakan, terkait varian Covid baru yang merebak di Singapura yang mana Singapura merupakan hub turis Eropa menuju Bali dinilai belum banyak mempengaruhi Bali.

“Jadi kita di AirPort sudah punya sistem deteksi. Mungkin di awal, di AirPort kita sudah bisa melihat ada petunjuk peningkatan suhu tubuh di kedatangan. Jadi kita bisa dilihat di situ jika ada yang terdeteksi,” ujarnya.

Pengamat pariwisata Panudiana Kuhn mengatakan Bali harus siap-siap mengantisipasi peningkatan kasus Covid-19. “Tamu harus memakai masker. Untungnya di RS di Bali selalu pakai masker termasuk di singapura, tapi di Mall, hotel masih bebas,” ujarnya.

Baca juga:  Diduga Incar "Pedagingan," Pondasi Sejumlah Pelinggih di Pura Puncak Cemara Geseng Dirusak

Partha Adnyana dan Panudiana belum bisa melihat dan memprediksi dampaknya terhadap pariwisata Bali. Cuma keduanya menyarankan lakukan pencegahan dengan memakai masker dan vaksin influenza mencegah tertular dari wisatawan.

Partha mengatakan, Bali sudah cukup matang dalam menghadapi Pandemi Covid-19 sebelumnya sehingga untuk penanganan kali ini menurutnya akan lebih baik. Ia berharap dampaknya tidak besar seperti tahun sebelumnya. Selain itu memang bulan ini memang sedang kondisi low season.

Ia memprediksi setelah akan kembali pulih. “Belum ada cancelation sih tapi Natal ini memang low season,” ujarnya.

Baca juga:  Dituding Palak WNA Saat Proses Imigrasi, Kemenkumham Bali Lakukan Investigasi

Meski demikian, upaya preventif harus dilakukan seperti pemakaian masker jika sedang mengalami kondisi tidak fit atau flu.

Pengamat pariwisata Panudiana Kuhn, mengaku tak tahu dampaknya seberapa besar terhadap pariwisata Bali. Tapi disarankan ke pelaku pariwisata agar tetap memakai masker saat bekerja melayani tamu sebagai bentuk antisipasi. “Kita mulai mengarah kesana, kalau memang betul itu, nanti menjadi ancaman,” ujarnya.

Meski demikian kondisi ini hendaknya diambil positifnya dengan menggarap wisatawan domestik agar tak sampai wisata ke luar negeri apalagi Singapura. Dengan demikian pariwisata dalam negeri semakin kuat.

Selain itu libur di Bali juga lebih murah. Kamar hotel di Bali dapat terisi penuh, restaurant penuh, tour and travel banyak memiliki tugas. “Singapura kan mahal 3  hingga 4 kali lebih mahal dari Bali untuk harga kamar hotelnya, belum lagi tiket tiket pesawatnya,” ungkapnya.

Baca juga:  Jangan Abaikan Prokes, COVID-19 Nyata Adanya

Maka dengan adanya larangan ke Singapura akan memberi dampak positif terhadap pariwisata Bali. Singapura merupakan hub kunjungan ke beberapa negara khususnya di Asia. Hal ini dinilai akan berdampak terhadap pariwisata Bali.

“Ke Bali saja dari Singapore Airlines itu.  Jadi orang mau kemana lewat Singapura termasuk ke China, Vietnam, Myanmar, ke Jepang, memang hub paling hebat. Kebetulan dia tidak punya domestic flight, hanya punya internasional  flight sehingga menerbangi seluruh ibukota negara. Eropa diterbangi tidak hanya sekali tapi beberapa kali, ke Bali enam kali,” bebernya. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN