Para anggota Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa mengikuti pemungutan suara untuk resolusi yang diajukan dalam sidang darurat ke-10 menyangkut situasi di Wilayah Palestina Yang Diduduki. (BP/Ant)

ANKARA, BALIPOST.com – Untuk membahas situasi di Jalur Gaza sehubungan dengan perluasan serangan darat Israel, Uni Emirat Arab (UAE) pada Sabtu (28/10), meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) untuk membahas hal tersebut.

“UAE telah meminta pertemuan darurat DK PBB untuk diadakan sesegera mungkin mengingat pengumuman Israel bahwa mereka tengah “memperluas operasi darat” di Gaza,” kata juru bicara misi UAE untuk PBB Shahad Matar dalam media sosial X.

Baca juga:  Periode 2019-2021, 41 Persen Warga Korut Kelaparan

UAE adalah anggota tidak tetap Dewan Keamanan untuk periode 2022-2023. Kementerian Luar Negeri UAE mengutuk operasi darat Israel di Gaza pada Sabtu pagi waktu setempat dan menyuarakan “keprihatinan mendalam atas eskalasi militer Israel.”

Pernyataan tersebut menegaskan kembali desakan UAE untuk segera melakukan gencatan senjata guna memastikan bahwa warga sipil dan institusi-institusi sipil tidak menjadi sasaran.

Gaza telah menjadi sasaran serangan udara Israel tanpa henti sejak Hamas melancarkan serangan mendadak pada 7 Oktober.

Baca juga:  China Kembali Dikejutkan Kasus Kematian Akibat Infeksi Covid-19

Kelompok Palestina itu meluncurkan Operasi Badai Al-Aqsa – serangan besar-besaran terhadap Israel, menggunakan berbagai metode, termasuk peluncuran roket, infiltrasi melalui darat, laut, dan udara.

Israel membalas serangan tersebut dengan serangan udara terus-menerus, yang semakin meningkat intensitasnya pada Jumat malam ketika mereka mulai melakukan serangan darat di tengah pemadaman total jaringan telekomunikasi dan internet di Gaza.

Setidaknya 7.703 warga Palestina, termasuk 3.595 anak-anak, telah terbunuh dalam serangan Israel, sementara jumlah korban tewas di Israel mencapai lebih dari 1.400 orang.

Baca juga:  Sydney Buka Perjalanan International Tanpa Wajib Karantina

Sebanyak 2,3 juta penduduk Gaza juga menghadapi kekurangan makanan, air, dan obat-obatan akibat blokade Israel di wilayah tersebut.

Hanya sedikit bantuan kemanusiaan yang berhasil masuk ke Gaza sejak dibukanya penyeberangan Rafah di perbatasan Gaza-Mesir akhir pekan lalu. (Kmb/Balipost)

BAGIKAN