Happy Salma dan Sri Luce. (BP/may)

DENPASAR, BALIPOST.com – Selama 15 tahun berkarya menghasilkan produk perhiasan, Happy Salma dan Sri Luce menjadikan Bali sebagai sumber inspirasi. Keduanya menyebut Bali tak hanya inspirasi, juga kekuatan mereka.

“Bali adalah rumahnya kita, sumber insipirasi dan sumber kekuatan kita,” beber Happy Salma dan Sri Luce Rusna, Founder Tulola Design saat perayaan 15 tahun Tulola Design, Rabu (27/9) di Sanur.

Kolaborasi dengan maestro keris Made Pada disebut keduanya sangat menginspirasi. “Jadi dia membuat karya terinspirasi dari kita, kita terinspirasi dari dia. Jadi pada kesempatan ini kita ingin sharing bahwa kita engga pernah berkarya sendirian, selalu sama-sama dan customer adalah tulang punggung kami,” ujarnya.

Baca juga:  Hamil Tua, Happy Salma "Support" Mertua

Kolaborasi tersebut menurutnya yang membuat mereka berkembang pesat selama 15 tahun. Dari hanya memiliki 6 tukang menjadi 80-an perajin. Begitu juga, pegawai yang jumlahnya belasan, kini menjadi 200 orang. “Seni membuat perhiasan adalah sesuatu hal yang dapat menghidupi dan membanggakan,” ungkapnya.

Pelanggan di Bali menurutnya hidup seperti semeton (keluarga). “Banyak motif-motif komunal lahir dari leluhur kita, jadi menggairahkan, saling menghidupi, ada persaingan tapi persaingan yang asyik,” tukasnya.

Baca juga:  Relokasi Pedagang Tertunda, Dishub Sebut Akibat Ulah Oknum

Desain kontemporer dengan berlandaskan tradisi membuat teknik desain yang digunakan sangat tradisional, tidak membuat karya mereka ketinggalan zaman. Pasalnya, dengan daya kreasi Sri Luce dan Happy Salma membuat karya yang relevan dengan perkembangan zaman.

“Misalnya leluhur kita sudah mengajarkan membuat subeng tapi subeng zaman dulu digunakan untuk upacara pernikahan yang besar. Bisa kita katakan Tulola menjadi pioneer juga yang membuat konstruksi subeng untuk menjadi lebih delicated, relevan sehingga orang pakai subeng bisa jalan-jalan di New York, London,” cetusnya.

Sri Luce menambahkan, sejak toko pertama buka di Bali, Celuk merupakan studio pertama dan merupakan inspirasi mereka. Begitu juga saat keluar Bali atau Indonesia membawa inspirasi untuk membawanya kembali ke Bali. “Banyak toko di luar Bali tapi Bali tetap menjadi foundation-nya kita,” imbuhnya.

Baca juga:  Bendesa Adat Terima Kalung Om Kara

Menurutnya, market awal yang menyasar ekspor perlahan menemukan pasarnya di Indonesia. “Kekuatan market kita di Indonesia, awalnya ekspor tapi ternyata kita lebih kuat market lokal karena apresiasi heritage, handcrafted sebenarnya lebih kuat di sini, memang karena itu passion kita, kita fokus di Indonesia,” ujarnya.(Citta Maya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *