Jalan rusak di desa Yehembang Kauh, Kecamatan Mendoyo akibat longsor dua tahun lalu. (BP/Olo)

NEGARA, BALIPOST.com – Selain jalan poros di Batuagung yang mengalami kerusakan, jalan penghubung antardesa di Desa Yehembang Kauh, Kecamatan Mendoyo juga mengalami kerusakan karena longsor. Kondisi jalan hampir mirip di Bendung Jero Pengentuh yang sebagian jalan tergerus dan membahayakan pengguna jalan.

Jalan tersebut berada di pinggir jurang dan belakangan terus terkikis hingga menyempit nyaris putus. Karena jalan menyempit berdampingan dengan jurang, setiap pengendara motor yang melintas harus bergantian, termasuk roda empat harus ekstra hati-hati.

Baca juga:  Atasi Padatnya Arus Ketapang-Gilimanuk, ASDP Rancang Jalur Alternatif Jawa-Bali

Informasi masyarakat, jalan tersebut tergerus sudah dua tahun terakhir. “Kalau malam juga sangat waspada, karena tidak ada penerangan jalan atau rambu pemberitahuan jalan rusak,” terang Komang Ardika, salah seorang warga yang melintas Selasa (12/9).

Warga berharap jalan yang menjadi penghubung antar desa ini bisa segera diperbaiki.

Terkait hal ini, Kepala Desa Yehembang Kauh, I Komang Darmawan mengatakan jalan tersebut menjadi salah satu usulan jalan yang perlu diperbaiki. “Usulan sudah beberapa kali kami sampaikan, karena ini masuk jalan Kabupaten,” katanya.

Baca juga:  Masyarakat Jembrana dan Bangli Dukung Pj. Gubernur Lanjutkan Kebijakan Koster

Di desa Yehembang Kauh, menurutnya ada dua ruas jalan Kabupaten yang mengalami kerusakan semuanya dampak dari tanah longsor. Karena membahayakan, desa sudah memasang rambu peringatan agar pengendara berhati-hati karena jalan rusak. Namun sudah hilang.

Sebelumnya data dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP) Jembrana, tahun 2013 ini tercatat ada 20 persen yang mengalami kerusakan dari total panjang 1.000 kilometer lebih jalan Kabupaten. Usulan jalan yang memerlukan perbaikan tersebut termasuk usulan dari desa atau kelurahan berdasarkan masing-masing Kecamatan. Kerusakan masuk kategori berat dan sedang atau tidak mantap. Sisanya 80 persen masih tergolong Mantap (baik dan rusak ringan). (Surya Dharma/balipost)

Baca juga:  Universitas Bali Internasional Peduli Cegah COVID-19
BAGIKAN