Polusi udara di langit sekitar Kota Tangerang diambil atas pesawat yang akan mendarat di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, Sabtu (26/8/2023). (BP/Ant)

JAKARTA, BALIPOST.com – Penyemprotan jalan tidak efektif untuk mengatasi polusi udara. Sebab, kegiatan itu hanya memindahkan polusi dari satu tempat ke tempat lain.

“Partikel PM2,5 banyak beredar di udara atas, bukan di bawah…, Jadi sebenarnya kalau menyemprot harus di atas, bukan di bawah,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, dikutip dari kantor berita Antara, Minggu (27/8).

“Kegiatan penyemprotnya juga harus luas karena kalau sedikit itu hanya menggeser-geser saja malah bisa menyebarkan pindah ke tempat lain,” imbuhnya.

Baca juga:  Pemkot Denpasar Beralih ke Kendaraan Listrik

Badan Kesehatan Dunia (WHO) membagi polusi udara ke dalam dua kelompok, yaitu gas dan partikel. Polusi udara yang dipicu gas bersumber dari nitrogen monoksida, sulfur monoksida, dan karbon monoksida.

Sedangkan, polusi udara yang disebabkan partikel berasal dari PM2,5 dan PM10.

Menkes menuturkan hanya ada dua hal yang bisa menghilangkan partikel PM2,5 dan sumber-sumber polutan lainnya secara cepat, yaitu hujan lebat dan angin kencang.

Baca juga:  COVID-19 Masih Merebak di Indonesia, Ini Kata Puan Maharani

Pada 17 Agustus 2023 lalu, berbagai pemantauan indeks kualitas udara di Jakarta menunjukkan angka berwarna kuning bahkan hijau karena saat itu ada angin kencang yang meniup polusi udara menjauhi Ibu Kota Indonesia tersebut.

Lebih lanjut dia menyampaikan ada tiga penyebab utama polusi udara, yaitu transportasi, pembangkit listrik tenaga uap yang memakai bakar batu bara, dan industri-industri yang menggunakan batu bara atau bahan bakar karbon lainnya.

Baca juga:  Menkes Budi Ajak PBB Beraksi Atasi Tuberkulosis

“Jadi kalau mau mengurangi PM2,5 itu yang biasanya dikurangi adalah transportasi, pembangkit listrik, dan industri. Inilah yang menyebabkan banyak PM2,5 berada di atas,” pungkas Menkes. (Kmb/Balipost)

BAGIKAN