Seorang model menunjukkan penyejuk udara hemat energi yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bernama LG Multi Vi. (BP/Ant)

JAKARTA, BALIPOST.com – Untuk mengetahui lebih dalam mengenai kegunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) sekaligus mengembangkan panduan untuk menangkal risiko pemanfaatannya,  Amerika Serikat akan membentuk kelompok kerja khusus yang bertugas untuk menyelidikinya. National Institute of Standards and Technology (NIST), sebuah lembaga non-regulasi yang berada di bawah naungan Departemen Perdagangan Amerika Serikat, mengungkapkan kelompok kerja tersebut beranggotakan para pakar bidang terkait yang berasal dari sektor publik maupun swasta.

“Kelompok baru ini sangat tepat waktu mengingat kecepatan, skala, dan potensi dampak AI yang belum pernah terjadi sebelumnya dan potensinya untuk merevolusi banyak industri dan masyarakat secara lebih luas,” kata Direktur NIST Laurie Locascio, dikutip dari Kantor Berita Antara, Minggu (25/6).

Baca juga:  AS Sampaikan Kekhawatiran Sejumlah Pasal KUHP baru

Saat ini para pembuat kebijakan di berbagai negara tengah berupaya untuk menyusun aturan yang mengatur penggunaan AI. Teknologi ini memiliki kemampuan dapat menghasilkan teks dan gambar secara otomatis agar pemanfaatannya dapat digunakan sebaik mungkin serta mencegah berbagai risiko yang ditimbulkannya.

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, mengatakan pada minggu ini, bahwa dia yakin risiko teknologi AI terhadap keamanan nasional dan ekonomi perlu ditangani. Karena itu, ia akan meminta nasihat dari para ahli terkait hal tersebut. (Kmb/Balipost)

Baca juga:  Bertemu Biden di Glasgow, Empat Hal Ini Dibahas Jokowi
BAGIKAN