Dewa Gde Satrya. (BP/Istimewa)

Oleh Dewa Gde Satrya

Jamuan Presiden Jokowi kepada para kepala negara dan pemerintahan negara-negara yang tergabung ASEAN beberapa waktu lalu dengan naik kapal pinisi sambil menikmati sunset di Labuan Bajo, menggugah kesadaran publik akan kekuatan wisata bahari Indonesia. Testimoni Presiden Marcos, Perdana
Menteri (PM) Lee Hsien Loong dan Pangeran Abdul Mateen dari Brunei Darussalam mewakili kegembiraan para pemimpin negara-negara ASEAN yang pada hari Rabu (10/5) sore menikmati
sunset Labuan Bajo dari atas kapal pinisi Ayana Lako Di’a.

Indonesia pernah mendedikasikan Visit Indonesia Year 2009 secara khusus berfokus pada marine tourism. Pemerintah Indonesia melalui Departemen Kebudayaan dan Pariwisata saat itu memfokuskan tiga kegiatan bahari yakni, cruise, yacht/sailing, dan diving yang menjadi pilar dalam mengembangkan wisata bahari.

Senada dengan hal itu, Rhenald Kasali (2004) menyatakan, segala sesuatu yang berakhiran ‘ing’ dalam bahasa Inggris, seperti diving, skiing, dog sledding, hot-air ballooning, whale kissing,bsnorkeling, dan seterusnya merupakan kemasan pariwisata modern. Ada delapan hal yang menjadinlatar belakang mengapa Indonesia patut mengembangkan wisata bahari.

Pertama, melalui wisata bahari akan membuka destinasi baru di berbagai kawasan wisata Nusantara. Kedua, mengangkat akses laut sebagai sarana pencapaian daerah tujuan wisata dan pesisir Indonesia yang terisolir.

Baca juga:  Bencana dan Kepemimpinan Pro Ekologi

Ketiga, membentuk untaian destinasi di perairan
Nusantara. Keempat, menjalin network antara
kabupaten, kota dan provinsi. Kelima, membuka
peluang, informasi, edukasi industri bagi masyarakat dan pemuda pesisir.

Keenam, memotivasi kaum muda pesisir untuk mau melakukan inovasi dalam wacana kebaharian. Ketujuh, sebagai sarana promosi kepada dunia. Terakhir, merupakan sarana pendukung pendapatan asli daerah dan peningkatan kesejahtaraan masyarakat.

Terlihat dari rata-rata lama tinggal (length of stay) para yachter misalnya, sekitar 3 bulan dengan expenditure US$ 30 per hari per orang. Wisata bahari juga memberikan kontribusi sebagai prime mover bagi pengembangan wilayah khususnya kawasan Indonesia Timur. Hall (2001) menyebutkan bahwa konsep pariwisata pesisir (coastal tourism) atau pariwisata bahari (marine tourism) meliputi hal-hal yang terkait dengan kegiatan wisata, leisure dan rekreasi yang dilakukan di wilayah pesisir dan perairan laut.

Sementara itu, Orams (1999) memberikan definisi marine tourism sebagai “those recreational activities that involve travel way from one’s place of residence and which have as their host or focus the marine environment.”

Baca juga:  Literasi Pemanasan Global

Potensi Ada dua potensi wisata bahari yang patut menjadi perhatian dan prioritas dalam pembangunan. Pertama, cruise. Wisata kapal pesiar sudah lama dirintis. Kapal pesiar asing dulu kerap melanglang
buana ke perairan Indonesia.

Awani Dream misalnya. Bahkan sejak masih bernama Hindia Belanda, perairan Indonesia merupakan perairan kapal pesiar. Kapal-kapal mewah dengan bendera
negara-negara Skandinavia, Inggris, Amerika, bahkan Federasi Rusia dan negara-negara lain sudah sejak awal masa kemerdekaan dari waktu ke waktu mampir ke Indonesia.

Di Ambon misalnya, telah lama ada acara tahunan bertajuk Darwin-Ambon Yacht Race, balapan kapal pesiar. Lomba yacht yang dirintis sejak 1976 itu sempat terhenti beberapa tahun, kemudian digelar kembali men￾jadi even yang menarik.

Dalam konteks ini, destinasi memegang peranan penting untuk membuat turun wisatawan yang naik di kapal pesiar. Bersandar saja tidak cukup, bagaimana upaya kita selanjutnya untuk memberikan alasan yang kuat kepada wisatawan bahwa mereka harus turun, membelanjakan uangnya, dan mengunjungi daya tarik wisata yang ada di berbagai daerah di negeri kita.

Oleh karena waktu bersandar cukup terbatas, maka perlu pengemasan paket wisata yang efektif. Dalam hal ini, perlu general agreement antar daerah mengklasifikasikan produk seni-budaya. Kedua, memberikan stimulus berupa kebijakan-kebijakan yang memudahkan bagi sebanyak-banyaknya kepada wisatawan untuk mengeksplorasi alam bawah laut, baik untuk tujuan penelitian, pembuatan film dokumenter, sport tourism, maupun kegiatan berwisata itu sendiri.

Baca juga:  Per 1 Agustus Tarif Masuk Pulau Komodo Rp 3,75 Juta, Pemprov NTT Ungkap Alasannya

Di mana, kesan dan pengalaman langsung yang diceritakan wisatawan lebih berdampak kuat untuk mengakuisisi (mendatangkan) wisatawan asing lainnya. Ceruk pasar wisatawan untuk tujuan diving dan snorkeling sangat besar. Informasi yang beredar di antara sesama diver, misalnya tentang destinasi menyelam baru di suatu negara, cepat menyebar dan mengundang minat mereka untuk merasakan pengalaman secara langsung.

Pengalaman wisata merupakan pengalaman perjalanan yang diperoleh dari rangkaian perjalanan dan pelayanan selama berwisata (Mendes dkk, 2020). Sementara itu, Matovelle & Baez (2018) menyatakan, pengalaman wisatawan di destinasi terbentuk melalui pengalaman emosional selama berwisata yang menjadi kenangan
mendalam.

Dua pendapat ini memiliki benang merah yang sama, pengalaman otentik dan menggembirakan merupakan value yang ingin diraih wisatawan ketika berwisata.

Penulis, Dosen School of Tourism, Universitas Ciputra Surabaya

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *