Prof. I Wayan Suartana. (BP/Istimewa)

Oleh I Wayan Suartana

Hari ini kita memperingati Hari Pendidikan nasional suatu hari bersejarah bagi bangsa kita untuk bangkit bersemangat melalui determinasi belajar lewat pendidikan yang tepat dan berkualitas. Ki Hajar Dewantara punya peran penting dalam memperjuangkan pendidikan anak bangsa pada masanya.

Tentunya kita memaknai Hari Pendidikan dengan menghormati jasa beliau dengan tiga prinsip dasar terkenal yaitu Tut Wuri Handayani, Ing Ngarso Song Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso dan beradaptasi terhadap perubahan zaman. Esensi dari ajaran Ki Hajar Dewantara adalah bagaimana pendidikan tidak hanya
sekadar mencerdaskan kehidupan bangsa tetapi juga melahirkan generasi yang cinta tanah air dan mencintai bangsa sesuai dengan cita-cita proklamasi.

Maka itu pendidikan karakter punya peran penting dalam mewujudkan pendidikan yang melahirkan lulusan yang lengkap secara kompetensi maupun sikap. Kalau pendidikan (satuan pendidikan formal misalnya) itu adalah sistem maka input-nya adalah siswa atau mahasiswa, prosesnya adalah pembelajaran dan output-nya adalah lulusan.

Baca juga:  Ekonomi Mengendurkan Krisis

Seleksi input mempunyai variasi di setiap satuan dan jenjang pendidikan. Pembelajaran banyak terkait dengan muatan kurikulum yang dirancang dan dilaksanakan. Kurikulum berbasis sinyal pasar dan perkembangan keilmuwan meski keduanya tidak serta merta diterima mentah begitu saja.

Sinyal pasar tidak boleh mereduksi core value yang ada. Begitu pula perkembangan keilmuwan tidak boleh menganggu kearifan lokal habitat satuan pendidikan tersebut. Adanya sistem rekrutmen dan kurikulum yang adaptif akan melahirkan lulusan yang adaptif pula.

Justru di sinilah tantangannya. Sudahkah kurikulum kita menjadi “pabrik” yang tidak hanya kuat secara kompetensi tetapi juga memiliki sikap yang koheren
sebagai anak bangsa. Kalau kita percaya dengan
“garbage in garbage out” maka setelan pabriknya
harus benar.

Baca juga:  Efektivitas Kepemimpinan Bali Pascapandemi dalam Ancaman?

Pada satuan pendidikan tinggi misalnya, kurikulum menjadi krusial karena di sini dibentuk manusia-manusia dewasa yang diharapkan mandiri oleh orang tua dan lingkungannya. Maka itu ciri utama salah satu
keberhasilan proses dan jaminan pembelajaran adalah kemandirian dalam kehidupan profesionalnya.

Tantangan terbesar mewujudkan hal tersebut yakni kemajuan peradaban digital. Dunia sudah tidak punya batas dan sekat lagi. Peradaban digital juga melahirkan model pendidikan jarak jauh dalam jaringan ataupun campuran. Siswa atau mahasiswa tetap berada di rumahnya dengan belajar melalui jaringan internet yang disediakan oleh sekolahnya atau diri sendiri.

Baca juga:  Pembatasan Umur pada Era Baru

Pertanyaannya dalam kondisi seperti ini bagaimana kita bisa mengukur CPL (Capaian Pembelajaran Lulusan) khususnya sikap? Sederhananya ada upaya lebih bagi
kita menilai sikap dalam ruang virtual.

Lalu lintas interaksi di dunia virtual sulit untuk dikontrol. Regulasi harus diperkuat yang dimaksudkan interaksi fisik tetap ada. CPL siswa atau mahasiswa akan terbentuk sebagai resultante pendidikan yang
memanusiakan manusia dalam pengertian pendidikan yang terbantu oleh kecerdasan buatan tetapi tidak melahirkan generasi yang cuek terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Bagaimana meramu portofolio fenomena ini tentu menjadi tanggung jawab kita bersama.

Penulis, Guru Besar dan Koprodi S-3 Akuntansi FEB Unud

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *