Kepala BKKBN Hasto Wardoyo. (BP/Ant)

JAKARTA, BALIPOST.com – Stunting dapat menggerus masa depan anak-anak bangsa karena dampaknya sulit diperbaiki dan berbeda dari penyakit lain. “Kalau penyakit yang disebabkan jamur misalnya, itu tidak menggerus kecerdasan. Stunting ini merusak masa depan anak-anak Indonesia, betul-betul menggerus kualitas sumber daya manusia Indonesia,” kata Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo, dikutip dari kantor berita Antara, Selasa (14/3).

Hasto Wardoyo menuturkan, penanganan stunting menjadi salah satu fokus utama pemerintah saat ini. Dalam pelaksanaannya pun, program percepatan penurunan stunting dijadikan sebagai program prioritas nasional.

Dampak stunting, anak memiliki tinggi badan yang tidak cukup, kemampuan intelektual di bawah rata-rata, dan bisa memiliki potensi besar memiliki penyakit gangguan metabolik saat usia tua.

Baca juga:  Dari Pengecekkan di Bandara Ngurah Rai, Nihil Temuan Suspect Corona

Dengan prevalensi angka stunting yang masih 21,6 persen, BKKBN menilai hal tersebut akan memengaruhi masa depan anak bangsa karena ada potensi angka tersebut bertambah akibat kelahiran bayi stunting baru. “Butuh waktu antara 3 sampai 5 tahun maka stuntingnya baru bisa diturunkan,” kata dia.

Hasto mengingatkan bahwa stunting terjadi karena anak kekurangan gizi kronik sehingga saat ini hal yang harus dilakukan mengoreksi asupan gizi anak dengan memperbanyak protein hewani dan mengolah pangan lokal yang kaya nutrisi, seperti telur, lele, daun kelor, minyak merah atau beras fortivikasi.

Baca juga:  Babi Mati di Bali Sentuh Angka Seribuan Ekor, Ini Kabupaten dengan Kematian Terbanyak 

Sanitasi yang buruk dan ketiadaan jamban hingga jumlah anak dalam satu keluarga yang terlalu banyak, jarak waktu melahirkan yang terlalu dekat, serta melahirkan pada usia terlalu muda ataupun terlalu tua, juga menjadi beberapa faktor penyebab anak stunting. “Intervensi untuk menurunkan stunting pada faktor ini melalui penggunaan kontrasepsi. Kita bisa melakukan gerakan pasang alat kontrasepsi. Sebab, jarak waktu melahirkan ini berpengaruh terhadap prevalensi stunting,” ujarnya.

Oleh karena itu, BKKBN terus memperluas jejaring kerja sama, di mana kini pihaknya mulai menggandeng Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas (YDKK) pada Senin (13/3), sebagai pihak yang memiliki fokus dan minat yang sama.

Baca juga:  Ciptakan Layanan Publik Andal, Bagi Pakai Data Diterapkan

“Kami berterima kasih kepada YDKK yang mau membantu upaya percepatan penurunan stunting. Sesuai arahan Bapak Presiden dalam Rakernas BKKBN, upaya percepatan penurunan stunting ini dilakukan bekerja sama dengan semua pihak,” katanya.

Pengurus YDKK Anung Wendyartaka mengatakan organisasi yang sudah berdiri sejak 1982 itu, selama ini giat melakukan tanggap darurat bencana. Program kesehatan dan pendidikan yang dilakukan YDKK juga dilakukan untuk upaya perbaikan sanitasi berupa bantuan program jambanisasi.

YDKK sudah merealisasikan program bantuan jambanisasi di Surabaya, Surakarta, Malang, dan Magelang. Terkait dengan program bantuan pemberdayaan masyarakat, ia mengatakan tujuannya perubahan perilaku dan program itu bisa dilakukan dengan model hibah bergulir. (Kmb/Balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *