Suasana Dialog Merah Putih yang digelar serangkaian Hari Guru Nasional dan HUT PGRI, Rabu (30/11). (BP/kmb)

DENPASAR, BALIPOST.com – Guru seluruh Indonesia baru saja merayakan Hari Guru Nasional (HGN) yang bertepatan dengan HUT ke-77 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Dalam dunia pendidikan guru merupakan sosok yang dapat membentuk jiwa dan watak peserta didik.

Guru mempunyai kekuasaan untuk membentuk dan membangun kepribadian anak didik menjadi seorang yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Terlebih Guru Taman Kanak-Kanak (TK) Sebab, Guru TK tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga penjaga moral peserta didiknya.

Pekerjaan sebagai guru TK tidaklah mudah, membutuhkan kesungguhan dan kesabaran bekerja bersama anak usia dini. Ketua Pengurus Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) Provinsi Bali, Dra. Tjok Istri Mas Minggu Wathini, mengatakan Guru TK memiliki peran yang penting dalam membentuk karaketer anak.

Sehingga, dalam mendidik anak-anak TK, Guru TK harus selalu ceria, bergembira, dan tidak terlalu serius. Ilmu yang diberikan yaitu ilmu tentang bagaimana cara membentuk karakter anak agar bisa diterima dalam keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Seperti contoh bagaimana anak-anak TK diminta untuk sembahyang di rumah dan di sekolah sebelum mengikuti kegiatan.

Baca juga:  BUPDA Desa Adat Unggahan Sediakan Sarana Upakara untuk Krama

Hal ini penting agar karakter beragama sudah ditanamkan sejak dini. “Sebenarnya karakter itu dibentuk dari dalam keluarga, tetapi kita sebagai Guru TK mengasah dan memperbaiki lagi karakter anak-anak di lembaga kita, karakter yang baik kita asah dan karakter yang jelek kita perbaiki,” ujar Tjok Istri Mas Minggu Wathini dalam Dialog Merah Putih Bali Era Baru “IGTKI Bali Implementasikan Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali” Demi Kebangkitan Bangsa” di Warung Coffee Bali Denpasar, Rabu (30/11).

Dikatakan, sebelum menerima anak peserta didik, lembaga sekolah TK terlebih dahulu menerima orang tuanya. Hal ini penting untuk menyampaikan program yang akan diberikan di sekolah TK.

Sehingga, ada persamaan persepsi antara lembaga, anak, dan orang tua. Langkah ini sangat penting di dalam membentuk karakter anak di TK untuk diterapkan di rumah. “Bagaimana pun juga hubungan antara guru yangbada di sekokah TK dengan orang tua anak harus saling isi mengisi,” tandasnya.

Baca juga:  Wagub Cok Ace: Utamakan Kesehatan dalam Memulihkan Pariwisata

Ketua IGTKI Kabupaten Badung, Dra. Yulfa menambahkan bahwa karakter anak yang baik akan tumbuh apabila diberikan pendidikan dengan cinta kasih. Bahkan, sampai tua pun mereka akan selalu menerapkan karakter baik tersebut dan akan selalu ingat kepada Guru TK tersebut.

Di sini, peran Guru TK dalam membentuk karakter baik anak tersebut. “Kalau ingin berhasil menanamkan karakter kepada anak, kita harus ‘pegang’ terlebih dahulu hatinya dia, supaya dia benar-benar mencintai kita. Kalau anak itu sudah mencintai kita melebihi dari orangtuanya, apapun yang kita tanamkan pasti akan selalu diingat,” imbuh Yulfa.

Dikatakan, karakter anak sejatinya bisa dibentuk dari keluarag inti. Namun, tidak semua pendidikan karakter yang ditanamkan kepada anak-anaknya sama di pendidikan TK.

Baca juga:  Desa Adat Amerta Sari Kembangkan Pariwisata Desa

Guru TK untuk menyamakan karakter anak-anak tersebut. Sehingga, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan mulai diterapkan oleh anak-anak di rumahnya.

Wakil Ketua IGTKI Kota Denpasar, Ni Nyoman Darmini mengaku menjadi Guru TK lebih banyak suka dibandingkan dukanya. Karena, selain cita-cita sejak kecil, juga karena menganggap bahwa “kenakalan” anak-anak usia dini adalah hal yang unik.

Baginya, apa yang dilakukan oleh anak-anak perlu diberikan pemahaman tentang apa yang harus dilakukan. Sehingga, apabila mereka melakukan hal yang tidak baik, diarahkan untuk merubahnya dengan cara yang baik pula.

Dengan demikian, anak tersebut secara perlahan akan mengikutinya. Apalagi, anak-anak yang dididik di sekolah TK berasal dari berbagai karakter yang berbeda sesuai dengan lingkungan keluarga dan sekitarnya. “Intinya guru TK harus selalu happy di depan anak-anak, jangan memperlihatkan muka sedih dihadapan anak,” ujarnya. (Winatha/balipost)

BAGIKAN