Kondisi ruang kelas di SDN 3 Yangapi yang rusak parah. (BP/Istimewa)

BANGLI, BALIPOST.com – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Bangli tahun ini belum bisa mengusulkan perbaikan bangunan rusak di SDN 3 Yangapi ke pemerintah pusat. Kendalanya karena aset lahan tempat berdirinya SD tersebut tercatat atas nama desa adat. Sesuai ketentuan, pusat akan memberikan bantuan perbaikan jika status lahannya minimal hak guna pakai oleh pemerintah daerah.

“Lahannya sekarang masih atas nama desa adat. Pemerintah pusat akan bisa membangun, lahannya dipastikan harus minimal hak guna pakai oleh Pemkab,” ungkap Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Disdikpora Bangli I Wayan Gede Wirajaya, Kamis (15/9).

Baca juga:  Membandel, Puluhan PKL Ditipiring

Dikatakan saat ini pihak sekolah masih berupaya agar status lahan itu bisa segera menjadi hak pakai pemerintah daerah. Sehingga di tahun 2023 kerusakan bangunan di sekolah tersebut bisa diusulkan mendapat bantuan DAK. “Astungkara tahun 2024 mudah-mudahan diprioritaskan,” harapnya.

Wirajaya mengatakan, semua ruangan yang rusak rencana akan diusulkan agar bisa mendapat perbaikan sekaligus. Untuk perbaikan sekolah rusak, Disdikpora Bangli saat ini hanya mengandalkan bantuan pemerintah pusat. Perbaikan dengan APBD Bangli tidak memungkinkan dilakukan mengingat kondisi keuangan daerah terbatas. “untuk perbaikan ruang kelas baru, toilet, perpustakaan kami masih andalkan DAK dari pusat,” kata Wirajaya.

Baca juga:  Diduga Karena Gempa, Sejumlah Sisi Patung Dewa Ruci Alami Keretakan

Sebagaimana yang diberitakan sebelumnya, siswa kelas 1 dan 2 di SDN 3 Yangapi selama ini harus belajar secara bergiliran di ruang perpustakaan. Sebab ruang kelas yang ada kondisinya rusak parah dan tidak bisa dimanfaatkan sejak hampir tiga tahun terakhir.

Kepala SDN 3 Yangapi I Gusti Putu Widiasta menyebutkan total ada lima unit ruangan di sekolahnya yang kondisinya rusak parah. Dua diantaranya merupakan ruang belajar untuk siswa kelas 1 dan 2. Sementara tiga lainnya masing-masing ruang kepala sekolah, ruang UKS dan dapur sekolah. Kerusakan parah terjadi pada bagian atap. “Atapnya sudah jebol,” kata Widiasta, Rabu (14/9).

Baca juga:  Meningkat, Permintaan Madu Kele

Karena kondisi itu, sejak akhir 2019 lalu pihaknya terpaksa mengosongkan kelima ruangan tersebut. Untuk kegiatan belajar siswa kelas 1 dan 2 dialihkan ke ruang perpustakaan. Kegiatan belajar dua rombongan belajar (rombel) itu dilakukan secara bergilir. Siswa kelas 2 baru bisa mulai belajar sekitar pukul 10.00 wita setelah siswa kelas 1 selesai. Ia mengakui siswanya selama ini kurang nyaman belajar di perpustakaan. “Karena ruangan sempit. Mereka harus belajar dengan banyak rak dan buku,” kata Widiasta. (Dayu Rina/Balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *