Arsif foto - Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan lakukan tepuk mayang sebagai simbolis dimulai nya acara Gernas BBI bertema "Jelajahi warna-warni Kalimantan Selatan", Jumat, (22/7/2022) di Tanam Siring 0 KM Kota Banjarmasin. (BP/Ant)

JAKARTA, BALIPOST.com – Video yang mengatasnamakan Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) yang memberikan perintah kepada Kepala Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri untuk mengusut kasus Brigadir J diklarifikasi oleh Juru Bicara Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Jodi Mahardi. Dalam video yang beredar beberapa hari terakhir tersebut, disebutkan bahwa Menko Luhut memberikan perintah langsung kepada Kabareskrim Polri Pol. Komjen Agus Andrianto untuk tidak ragu dalam mengusut kasus pembunuhan anggota Polri.

“Ucapan Menko Luhut dalam video tersebut ditujukan untuk penanganan kasus COVID-19 dalam kapasitasnya sebagai Koordinator PPKM Darurat, bukan terkait dengan proses penyidikan kasus pembunuhan anggota Polri yang sekarang sedang berlangsung,” katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.

Baca juga:  Karena Ini,¬†Pedagang Ditangkap di LP Kerobokan

Jodi menambahkan, kutipan Menko Luhut di video yang beredar tersebut merupakan potongan dari konferensi pers yang ditayangkan beberapa stasiun televisi pada 3 Juli 2021. “Dalam konteks saat itu, Pak Menko yang sedang menangani PPKM Darurat meminta Komjen Agus untuk menindak tegas pihak-pihak yang menaikkan harga obat-obatan yang dibutuhkan untuk penanganan pasien COVID. Sehingga tidak benar framing video yang sekarang beredar itu,” ungkap Jodi.

Baca juga:  Cegah Paham Radikal di Papua Barat, Pangdam Cantiasa akan Lakukan Ini

Jodi melanjutkan, Menko Luhut selalu menghormati tugas serta tanggung jawab dari setiap instansi dan lembaga. Ia juga tidak ingin berkomentar terhadap hal-hal yang di luar kapasitasnya sebagai Menko Marves.

“Pak Menko tidak pernah mencampuri urusan yang bukan menjadi tanggung jawabnya sebagai Menko Marves dan juga pembantu Presiden Joko Widodo. Semoga semua pihak bisa berpikir jernih lebih dahulu sebelum membuat dan mempercayai video-video potongan yang tidak sesuai konteks seperti itu,” ucap Jodi. (kmb/balipost)

Baca juga:  Laporan WEF, Ini 5 Pekerjaan Paling Dicari di Masa Depan
BAGIKAN