Tangkapan layar Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof. Zubairi Djoerban dalam Webinar Jaga Anak dari Hepatitis Akut yang diikuti di Jakarta, Jumat (13/5/2022). (BP/Ant)

JAKARTA, BALIPOST.com – Kemungkinan besar penyakit cacar monyet sudah masuk ke Indonesia, namun belum terdeteksi. Hal itu dikatakan Ketua Satuan Tugas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban.

“Ada kemungkinan cukup besar, masih mungkin, estimasi mungkin cukup besar bahwa sebetulnya di kita sudah ada, namun belum terdeteksi,” kata Prof Zubairi saat dihubungi di Jakarta, dikutip dari kantor berita Antara, Kamis (4/8).

Baca juga:  Pebalap Indonesia Rebut Etape 2 ITdBI 2018

Menurutnya, sudah lebih dari 75 negara melaporkan kasus cacar monyet di negaranya, sehingga Indonesia kemungkinan juga sudah memiliki kasus yang tidak terdeteksi. “Mestinya ada kemungkinan besar, sudah ada, cuman belum terdiagnosis,” katanya.

Dia menjelaskan salah satu penyebab tidak terdeteksinya cacar monyet adalah jenis penyakit ini masih baru, sehingga banyak dokter dan masyarakat yang tidak mengenal gejalanya. “Jadi, ada kemungkinan cacar monyet, namun diduga oleh pasien, keluarga maupun layanan kesehatan sebagai penyakit lain,” katanya.

Baca juga:  Awal Juli, Menkes Yakin Vaksinasi 1 Juta Dosis Per Hari

Oleh karena itu, pihaknya mendorong pemerintah menyediakan hotline untuk melaporkan kasus yang diduga cacar monyet. “Harus ada hotline, jadi kalau curiga ini (cacar monyet) hubungi nomor sekian, nanti akan tindaklanjuti, misalnya dinas kesehatan akan menindaklanjuti, akan mengambil contoh dari kelainan kulit yang ada, kemudian dikirim ke laboratorium rujukan, apakah ini virus cacar monyet atau bukan,” katanya.

Meskipun demikian, pihaknya meminta masyarakat tidak perlu khawatir terhadap penyebaran penyakit cacar monyet, karena memiliki tingkat fatalitas yang rendah. (kmb/balipost)

Baca juga:  Tanggulangi COVID-19, Agung Suyoga Sumbangkan Gaji Anggota DPRD Bali
BAGIKAN