Suasana Dialog Merah Putih yang mengangkat topik Kontribusi Wisatawan Menjaga Bali, Rabu (3/8). (BP/kmb)

DENPASAR, BALIPOST.com – Peluncuran aplikasi Love Bali pada 29 Juli lalu merupakan momen yang tepat untuk menghadapi pariwisata Bali Era Baru. Dalam aplikasi tersebut, wisatawan mancanegara dapat berkontribusi untuk pelestarian alam dan budaya Bali. Kontribusi ini nantinya akan kembali lagi ke wisatawan berupa pengalaman, pelayanan, dan vibrasi positif setelah berlibur di Bali.

Menurut Ketua PHRI Badung Agung Rai Suryawijaya, Rabu (3/8) dalam Dialog Merah Putih menuju Bali Era Baru di Warung Coffee Bali 63, Jalan Veteran, ide brilian dari Gubernur Bali ini mendapat apresiasi tidak hanya dari kalangan pelaku pariwisata tapi juga dari wisatawan. Bagi orang-orang yang sangat mencintai Bali akan tertarik untuk berkontribusi terhadap Bali. Program Love Bali sesuai dengan Perda Nomor 1 Tahun 2020 ini sekaligus untuk melihat seberapa besar kecintaan wisatawan terhadap Bali.

Respons wisatawan terhadap program ini menurutnya sangat positif asalkan dikelola dengan transparan, akuntabel dan tepat sasaran. Untuk dapat menarik minat wisatawan mau berkontribusi, maka yang bisa dilakukan adalah membangun kepercayaan wisatawan. Untuk itu ia sedang membangun narasi yang tepat untuk mengetuk hati wisatawan berkontribusi.

Baca juga:  Desa Adat dan Dinas Ketewel Bangun Pengolahan Sampah TPS3R

Ia yakin program ini tidak akan mengurangi minat wisatawan ke Bali karena bersifat sukarela. Wisatawan yang ingin berkontribusi dapat mengunduh aplikasi Love Bali, menentukan pilihan cara berkontribusi baik dengan nominal USD 10, USD 15, USD 25 atau pun tidak sama sekali. Kontribusi dapat dilakukan sebelum datang ke Bali ataupun saat di Bali.

Maka dari itu, program ini perlu disosialisasikan di berbagai tempat baik di pesawat, hotel, bandara, di destinasi wisata, dan lainnya. “Retribusi ini bersifat sukarela sehingga wisatawan yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap alam turut berkontribusi. Jadi ini sifatnya kontribusi, bukan tax, bukan retribusi,” tegasnya.

Ia berharap seluruh stakeholder pariwisata ikut menyosialisasikan ke tamu-tamunya, mengetuk hati mereka untuk berkontribusi. Karena jika mengandalkan APBN pemerintah, tentu terbatas sehingga perlu uluran tangan dari dermawan yang mencintai Bali.

Kontribusi wisatawan ini diprioritaskan untuk kebersihan seperti pengurangan sampah plastik, perawatan terumbu karang, dan merawat budaya Bali.

Baca juga:  Desa Adat Tampekan Andalkan BKK Pemprov Bali

Ketua Asita Bali Putu Winastra mengatakan, dengan visi misi Gubernur Bali Nangun Sad Kerthi Loka Bali, alam Bali harus terproteksi dengan baik. Ia menegaskan asosiasi dengan anggota 415 biro perjalanan wisata ini wajib mendukung program kontribusi pariwisata.

Sebagai seorang pemimpin yang bijak harus memikirkan Bali ke depan untuk anak cucu. Bali tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah, hanya pariwisata. Jika tidak aturan yang memproteksi hal tersebut, ia khawatir pariwisata Bali tidak dapat bertahan.

Dengan adanya Perda nomor 1 tahun 2020, maka sebagai orang Bali dan pelaku pariwisata wajib mendukung program ini dengan cara menyosialisasikan kepada wisatawan yang datang dari berbagai macam negara, karena Asita memiliki 11 divisi pangsa pasar. Dengan memberikan sosialisasi yang benar, ia yakin wisatawan yang peduli terhadap alam dan budaya Bali tidak akan masalah jika diminta kontribusinya.

Hanya saja, perkembangan dari kontribusi pariwisata ini perlu diinformasikan dan dikomunikasikan secara rutin. Aplikasi yang ada diharapkan memudahkan secara sistem, tidak mempersulit wisatawan untuk berkontribusi.

Baca juga:  Menjaga Bumi, Melindungi Generasi Bali

Kemudahan ini akan semakin menarik minat wisatawan untuk berkontribusi. Selain itu diperlukan marketing communication yang bisa memberikan informasi 24 jam jika menemui kendala dalam hal berkontribusi.

Akademisi dari Universitas Udayana sekaligus Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Putu Anom mengatakan, dengan adanya kontribusi wisatawan baik dalam bentuk barang maupun uang diharapkan bisa memproteksi alam dan budaya Bali, namun yang terpenting masyarakat Bali juga sejahtera.

Jika wisatawan peduli dengan Bali, maka harus diikuti dengan kepedulian masyarakat Bali sendiri yang lebih tinggi agar wisatawan tidak kecewa. Peran masyarakat Bali sendiri dalam menjaga alam dan budaya Bali juga sangat penting.

Mengingat kontribusi pariwisata terhadap ekonomi Bali cukup tinggi yaitu 70%, meskipun perlu sektor penunjang lain, maka pariwisata harus mendapat perhatian lebih.

Pariwisata ini merupakan mesin penggerak ekonomi Bali. Kontribusi wisatawan ini diharapkan konsisten dilaksanakan. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN