Ir. Dharma Gusti Putra Agung Kresna. (BP/Istimewa)

Oleh Agung Kresna

Kesempatan menjadi tuan rumah perhelatan G20 harus bisa memberi peluang bagi Bali dalam berbagai sektor kesejahteraan warganya. Mengingat dengan penyelenggaraan G20 di Bali dapat memberi dampak langsung bagi Kota Denpasar; sebagaimana diungkap Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara (Bali Post, 22/07/2022).

Pelaksanaan G20 di Bali tentu member kemanfaatan bagi masyarakat Denpasar. Dalam hal ini dengan adanya pembangunan berbagai infrastruktur kota guna mendukung kegiatan yang ada dalam perhelayan G20, maka secara tidak langsung telah ikut menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi Kota Denpasar.

Seperti halnya pembangunan beberapa TPS3R (Tempat Pengelolaan Sampah pola Reduce, Reuse, Recycle) dan TPST (Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu), secara tidak langsung menjadi solusi dalam permasalahan sampah sebagai dampak penutupan TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) sampah di Suwung.

Baca juga:  Wabah dan Kemunculan Tradisi Baru di Bali

Melalui pembangunan tiga unit TPST di Denpasar diharapkan akan mampu menangani volume sampah Denpasar yang sebesar 816 ton per hari. TPST Kesiman Kertalangu akan mampu menangani 450 ton sampah per hari. Sementara TPST Padangsambian Kaja akan menangani 120 ton sampah. Sedang TPST Tahura akan mampu mengolah 450 ton sampah.

Kegiatan G20 juga memberi kesempatan kepada para pelaku ekonomi kreatif untuk mengembangkan kegiatan usahanya. Para perajin tenun tradisional di Tenganan Pegringsingan mendapat kesempatan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) untuk membuat tenun kain Gringsing sebagai suvenir bagi para pemimpin negara anggota G20.

Serangkaian kegiatan G20 di Bali juga membutuhkan berbagai pembenahan infrastruktur kota, utamanya yang terkait dengan venue yang digunakan dalam perhelatan G20. Tol Bali Mandara juga tak luput dari upaya penataan ulang sebagai prasarana penghubung mobilitas peserta G20 dengan berbagai venue pertemuan.

Baca juga:  Bung Karno, Pelopor Industri MICE

G20 (Group of Twenty) sendiri merupakan sebuah forum utama kerjasama ekonomi internasional yang beranggotakan negara-negara dengan perekonomian besar di dunia. Terdiri dari 19 negara dan satu lembaga Uni Eropa. Indomesia ditunjuk sebagai presidensi G20 terhitung sejak tanggal 1 Desember 2021 hingga KTT G20 pada November 2022.

Peluang untuk pembenahan infrastruktur kota sering berlangsung seiring dengan adanya event-event besar berskala Nasional maupun Internasional pada suatu kota. Perhelatan besar tersebut biasanya membutuhkan dukungan infrastruktur kota yang memadai, guna kelancaran berbagai kegiatan dalam perhelatan tersebut.

Kegiatan G20 yang berskala Internasionalpun mau tidak mau menuntut kehadiran infrastruktur kota yang memadai di Bali. Hal ini terlihat dengan adanya pembenahan prasarana infrastruktur menuju venue Garuda Wisnu Kencana maupun Tol Bali Mandara sebagai infrastruktur pendukung mobilitas peserta kegiatan G20.

Baca juga:  Dari Menyongsong Era Baru Tanpa Pariwisata hingga Ngotot Bertahan di Hotel White Rose

Upaya penataan infrastruktur kota yang berbasis enerji baru terbarukan juga ikut dipacu. Infrastruktur jaringan listrik PLN ditingkatkan utamanya sebagai pendukung penggunaan mobil listrik sebagai sarana transportasi dalam G20. Demikian juga dengan perluasan hutan mangrove sebagai infrastruktur pendukung pengurangan emisi CO2 bagi udara di langit Bali.

Perhelatan G20 yang sebagian besar kegiatannya, dan puncak kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi para Kepala Negara akan berlangsung pada bulan November 2022 di Bali, tentu akan memberi dampak positif bagi pembenahan berbagai infrastruktur kota di wilayah Pulau Bali. Kondisi ini tentu akan memberi kemanfaatan bagi masyarakat Bali itu sendiri.

Penulis Arsitek, Senior Researcher pada Centre of Culture & Urban Studies (CoCUS) Bali, tinggal di Denpasar

BAGIKAN