Dr. Ir. I Gusti Bagus Udayana, M.Si. (BP/kmb)

DENPASAR, BALIPOST.com – Adanya pandemi Covid-19 kembali membangkitkan geliat anak muda untuk terjun ke dalam bidang pertanian. Sektor pertanian dalam arti luas dapat menopang pertumbuhan perekonomian di Bali. Sebab, sektor pariwisata telah luluh lantak akibat hantaman pandemi Covid-19. Lalu, bagaimana upaya Pemerintah Provinsi Bali dalam mendukung pemajuan sektor pertanian untuk pertumbuhan Ekonomi Kerthi Bali?

Akademisi Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa (Unwar), Dr. Ir. I Gusti Bagus Udayana, M.Si., saat dialog Merah Putih Bali Nangun Sat Krethi Loka Bali, Bali Era Baru di Warung Coffee 63 Jl. Veteran Denpasar, Rabu (27/7) mengatakan, di masa pandemi Covid-19, sektor pertanian menjadi sektor paling kuat di Bali. Sebab, sektor pariwisata yang selama ini menjadi kekuatan Bali masih terpuruk akibat pandemi Covid-19. Hal ini menyebabkan ekonomi Bali ambruk.

Namun, eksistensi sektor pertanian sudah mulai terlihat. Tentu hal ini akan menjadi kekuatan ekonomi baru bagi Bali ke depannya. Terlebih, saat ini Gubernur Bali, Wayan Koster telah mengeluarkan Konsep Ekonomi Kerthi Bali yang bertujuan untuk menyeimbangkan struktur dan fundamental perekonomian Bali dengan memiliki 6 pilar sektor unggulan.

Baca juga:  Polisi, TNI dan Basarnas Gelar Doa Bersama Mohon Keselamatan KRI Nanggala-402

Sektor pertanian dalam arti luas dengan Sistem Pertanian Organik ditempatkan menjadi pilar utama pada konsep Ekonomi Kerthi Bali ini.
“Sektor pertanian akan tetap eksis dalam kondisi apapun, tidak hanya karena pandemi Covid-19, namun juga bisa tetap eksis ketika ada bencana alam, seperti Gunung Agung meletus dan kejadian-kejadian global lainnya. Ini menunjukkan bahwa sektor pertanian memang tidak bisa diabaikan begitu saja, apalagi saat ini adanya peningkatan ketahanan pangan,” ujar Bagus Udayana dalam dialog Merah Putih bertajuk “Peran Sektor Pertanian dalam pertumbuhan Ekonomi Bali”.

Lebih lanjut dikatakan, dalam setiap pertemuan, worshop, dan seminar selalu digagas agar sektor pertanian di Bali menjadi prioritas utama. Sebab, sektor ini akan berkaitan dengan sektor lainnya. Apalagi, dengan adanya konsep Ekonomi Kerthi Bali yang mengedepankan sektor pertanian.

Sebab, sektor pertanian ini tidak hanya menambah nilai ekonomi, tetapi kaitannya dengan sektor kebudayaan Bali. Dimana, masing-masing wilayah akan bisa menghadalkan dan mengembangkan produk-produk pertanian yang ada di wilayah mereka masing-masing. “Kaitannya dengan pertumbuhan Ekonomi Kerthi Bali ini, yang perlu dikedepankan adalah green economy. Karena melalui green economy inilah kita harapkan apa yang digagas oleh Bapak Gubernur (Wayan Koster,red) akan menjadi nyambung. Green economy bukan hanya berpikir tentang lingkungan saat ini tetapi kondisi lingkungan hingga ke anak cucu. Contoh green economy dalam sektor pertanian adalah menggunakan sistem pertanian organik yang saat ini digagas oleh Bapak Gubernur,” tandasnya.

Baca juga:  Eksekutif Diminta Siapkan Pengalihan Jalur Truk Galian C

Tidak hanya itu, untuk mendukung sektor pertanian pasar tradisional juga harus dioptimalkan. Sehingga, melalui green economy dapat meningkatkan nilai tambah menuju ekonomi kerthi Bali. “Program Gubernur ini patut kita dukung karena berkaitan dengan lingkungan Bali, mengedepankan masyarakat, dan bagaimana memanfaatkan beberapa komoditas-komoditas unggul yang ada di masing-masing wilayah,” ujarnya.

Sementara itu I Kadek Ari Setiawan, S.Tr.Par., yang saat ini sebagai pelaku usaha jamu herbal mengatakan bahwa keinginan anak muda Bali untuk beralih ke sektor pertanian sudah mulai meningkat. Seperti dirinya yang dulu background-nya adalah pariwisata.

Baca juga:  Bertransformasi dari Pariwisata ke Pertanian, Bali Perlu Optimalisasi "Supply Chain"

Namun, dengan kreativitas yang dimiliki akhirnya memutuskan berkecimpung dalam sektor pertanian dengan memproduksi jamu herbal instan. Jamu herbal ini dikemas secara modern memggunakan alumunium foil yang bisa didaur ulang untuk menarik konsumen. “Kebetulan waktu itu pas Covid-19, dan saat ini semua masyarakat ingin minum-minuman herbal. Saya sempat kewalahan di bahan baku, karena pertanian saatbitu belum siap. Akhirnya tercetus keinginan saya untuk fokus di pertanian juga, sekaligus ingin memberdayakan masyarakat bahwa pertanian itu membanggakan,” ujarnya.

Dikatakan, menggeluti pertanian sudah dilakoninya selama 2 tahun. Bahkan, usahanya sudah terdaftar di HAKI. “Saya berharap pertanian Bali semakin eksis ke depan, dan anak muda Bali tidak malu lagi berkecimpung di bidang pertanian untuk menciptakan inovasi baru, sehingga sektor pertanian mampu mendukung pertumbuhan perekonomian Bali ke depannya. Apalagi, Bapak Gubernur Bali mendukung sektor pertanian menjadi pilar utama dalam pertumbuhan ekonomi Bali melalui konsep Ekonomi Kethi Bali,” pungkasnya. (Winatha/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *