Dewa Gde Satrya. (BP/Istimewa)

Oleh Dewa Gde Satrya

Ketua Tim Pelaksana Program Kartu Prakerja, Rudy Salahuddin mengatakan sejak dibukanya program ini pada April 2020, sampai saat ini telah menjangkau 12,8 juta peserta di 514 kabupaten/kota di 34 provinsi. Saat ini program telah memasuki gelombang ke-32 dan menjangkau daerah 3T, sudah ada ekosistem berkolaborasi dengan 6 platform pelatihan digital, 6 platform pembayaran, 171 lembaga pelatihan dan lebih dari 1,000 pelatihan aktif. Konsep ini merupakan implementasi dari konsep end-to-end digital.

Presiden Jokowi saat bertemu 8.000 alumni penerima kartu prakerja, Jumat (17/6) di Sentul, Bogor, menceritakan data survey BPS kepada penerima kartu prakerja menyatakan 88,9 persen di antara mereka mengaku memiliki keterampilan baru atau lebih baik. Hal ini menunjukkan manfaat dari program pengembangan SDM di Tanah Air bermanfaat, terlebih selepas pandemi Covid-19 yang menyebabkan banyak lapangan kerja tutup atau terhambat. Sebelumnya telah teridentifikasi lima topik pelatihan yang paling diminati.

Pertama, pemasaran digital. Kedua, bidang food and beverage untuk pekerja maupun wirausaha. Ketiga, web design, keempat, administrasi perkantoran, dan kelima, wirausaha (antaranews.com, 17/3/2021). Topik pelatihan prakerja menjadi wirausaha merupakan pilihan bijaksana dan layak diapresiasi. Kiranya pelatihan itu berdampak pada lahirnya wirausaha-wirausaha baru di Tanah Air. Pasca keterpurukan perekonomian Indonesia pada akhir tahun 90’an dan kini pasca pandemi Covid-19, pembangunan spirit kewirausahaan di Indonesia menjadi suatu kebutuhan yang mendesak. Namun, pembangunan kewirausahaan di Indonesia tidaklah mudah. Berdasarkan penelitian dari Entrepreneurship Working Group dari APEC (2004) terlihat bahwa hanya sedikit wirausaha yang berhasil menjadi pengusaha besar dalam siklus pola kewirausahaan. Fenomena ini juga banyak terjadi di Indonesia.

Baca juga:  Kuningan, Momentum Penguatan Dharma

Belajar dari negara-negara maju yang spirit kewirausahaannya berkembang pesat, salah satunya Kanada, strategi perbaikan pendidikan kewirausahaan merupakan prasyarat penting yang harus dipenuhi untuk menciptakan para wirausaha lokal yang tangguh. Sistem pendidikan kewirausahaan menyebar dari sekolah dasar sampai ke Universitas. Untuk peningkatan kualitas pendidikan kewirausahaan ini, pemerintah Kanada tidak segan-segan melakukan kerja sama dengan negara-negara lain yang sudah berhasil, seperti negara-negara Skandinavia (Swedia, Finlandia, Denmark, dan Norwegia) (Rhenald Kasali, 2005).

Spirit pembangunan kualitas sumber daya manusia (SDM), senada dengan tujuan kepariwisataan yang diamanatkan UU Kepariwisataam. Pada peringatan world tourism day 2019 yang dipusatkan di New Delhi, India, tema sentral yang diangkat oleh United Nation World Tourism Organization adalah peran pariwisata dalam penciptaan lapangan pekerjaan untuk kehidupan yang lebih baik. Bahkan indikator kinerja utama sektor pariwisata yaitu jumlah tenaga kerja langsung, tidak langsung dan ikutan sektor pariwisata. Tenaga kerja langsung untuk sektor pariwisata di bidang akomodasi, travel agent, airlines dan pelayanan penumpang lainnya, termasuk tenaga kerja di sektor usaha restoran dan tempat rekreasi yang langsung melayani wisatawan. Tenaga kerja tidak langsung di sektor promosi pariwisata, furnishing/equipment, persewaan kendaraan, manufaktur transportasi. Tenaga kerja ikutan mencakup tenaga kerja pada sektor supply makanan dan minuman, wholesaler, computer utilities, dan jasa perorangan (Idrus, 2018).

Baca juga:  Kartu Prakerja Harus Adaptif di Situasi Pandemi

Kementerian Pariwisata (2017) melansir upaya untuk meningkatkan komptensi baik dari segi kapasitas maupun profesionalitas tenaga kerja pariwisata, terealisasi sebanyak 65.000 orang tenaga kerja pariwisata telah disertifikasi, artinya tingkat capaiannya 100 persen, sebab target dan realisasi klop yaitu sebayak 65.000 orang. Pencapaian sertifikasi ini sempat terhambat karena pandemi, dan saat ini dengan semangat memulihkan industri pariwisata. Melalui kartu prakerja, Menparekraf, Sandiaga Uno, menilai agar 20-25 persen penerima kartu prakerja berasal dari 34 juta warga negara yang bekerja di industri pariwisata.

Kartu prakerja mengingatkan kita pada pidato ”Visi Indonesia” Jokowi saat kampanye tiga tahun lalu di Sentul International Convention Center, Bogor, Minggu (14/7/2019).

Dia menegaskan lima visi pemerintahannya lima tahun mendatang. Poin kedua dalam visi tersebut memberi penekanan pada pembangunan SDM. Hal konkret terkait pembangunan SDM adalah pentingnya vocational training, vocational school dan lembaga Manajemen Talenta Indonesia. Presiden berjanji akan memfasilitasi dan mendukung pengembangan talenta-talenta Indonesia. Yang tak kalah penting adalah, diaspora yang bertalenta tinggi, akan diperhatikan dan dilibatkan dalam peningkatan daya saing SDM Indonesia.

Baca juga:  Presiden Sebut Ini 5 Besar Pelatihan Paling Diminati di Program Kartu Prakerja

Orkestrasi pembangunan SDM yang dikoordinir oleh Menko Perekonomian juga merambah ke calon SDM yang dididik di Perguruan Tinggi. Kemendikbud memiliki program international student mobility (IISMA) yang tahun ini memasuki periode ketiga dan mobilitas antar pulau di dalam negeri. Dalam rangkaian Merdeka Belajar Kampus Merdeka, mahasiswa di Tanah Air memiliki kesempatan belajar di kampus-kampus terkenal di luar negeri selama satu semester dengan persyaratan yang ditentukan. Global exposure merupakan salah satu kunci untuk membuka wawasan, pengetahuan dan pengalaman calon SDM akan persaingan dan kolaborasi internasional.

Guna mewujudkan impian pembangunan berkelanjutan Indonesia yang bertumpu pada empat pilar strategis atau triple track strategy plus, yakni pro-pertumbuhan ekonomi, pro-penciptaan lapangan kerja, pro-pengentasan kemiskinan, dan pro-lingkungan hidup, talent management merupakan upaya by design negara untuk mengelola talent-talent dan mendekatkan SDM dengan tuntutan dan standard industri. Upaya ini patut disambut dengan gairah setiap warga untuk meningkatkan keterampilannya dari waktu ke waktu.

Penulis, Dosen Hotel & Tourism Business, School of Tourism, Universitas Ciputra Surabaya

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *