Bus kota Beijing terus melaju di ring road 3 tanpa berhenti di halte Panjiayuan pada Kamis (26/5/2022). Sedikitnya 60 stasiun kereta api dan halte bus di ibu kota China itu ditutup total sejak otoritas setempat menerapkan penguncian wilayah (lockdown) pada 1 Mei 2022 menyusul munculnya beberapa klaster baru COVID-19 varian Omicron. (BP/Ant)

BEIJING, BALIPOST.com – Setelah mengalami penguncian wilayah (lockdown) selama lebih dari sebulan, tepatnya 37 hari terkait munculnya beberapa klaster baru COVID-19 varian Omicron, situasi Kota Beijing, China, mulai pulih secara bertahap pada Minggu (29/5). Beberapa pusat keramaian belum sepenuhnya beroperasi meskipun otoritas ibu kota telah mengumumkan pelonggaran kontrol wilayah sejak Sabtu (28/5).

Dikutip dari kantor berita Antara, Minggu (29/5), taman dan ruang terbuka, pusat penjualan jajanan, pasar grosir, dan toko-toko swalayan, di Distrik Chaoyang terlihat masih tutup. Pintu gerbang stasiun kereta metro jalur 10 di Panjiayuan dan sekitarnya masih terkunci. Hanya beberapa halte bus di sekitar jalan lingkar 3 Beijing yang sudah beroperasi kembali. Warga juga masih diwajibkan melakukan tes PCR massal setiap hari.

Baca juga:  Ikasmasta Peduli COVID-19

Beberapa kawasan permukiman juga masih dijaga ketat oleh aparat dan orang-orang yang tidak memiliki kepentingan dilarang masuk. Penutupan beberapa kawasan permukiman itu sempat memunculkan keributan antara warga dan aparat di Jalan Huawei Li Panjiayuan. Beberapa warga meminta aparat segera membuka blokade yang selama sebulan lebih dipasang di kompleks permukimannya.

Pada Jumat (27/5) di Beijing hanya terdapat 23 kasus positif baru, sedangkan Sabtu (28/5) hanya 12 kasus. Beijing berhasil mengendalikan COVID-19 setelah dalam enam hari berturut-turut terjadi penurunan kasus baru dan delapan distrik justru tidak ada kasus, demikian Pemerintah Kota Beijing dalam pengarahan pers pada Sabtu (28/5).

Baca juga:  Padahal Belum Dibuka, Sejumlah Pantai di Badung Sudah Didatangi Wisatawan

Pelonggaran kontrol wilayah di Beijing tersebut bersamaan dengan berakhirnya masa kunjungan Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCHR) ke China terkait dengan isu Xinjiang yang berakhir pada Sabtu (28/5).

Oleh sebab itu, lockdown di Beijing menimbulkan berbagai spekulasi karena dianggap politis. Bahkan sempat terjadi aksi protes di salah satu kampus ternama di Ibu Kota. (kmb/balipost)

BAGIKAN