Krama Desa Adat Carangsari bergotong-royong dalam mengusung bade saat upacara pitra yadnya di desa setempat. (BP/Istimewa)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Gotong royong merupakan salah satu budaya mengandung nilai yang sampai saat ini masih ada dan dilakukan oleh masyarakat Indonesia, khususnya di Kabupaten Badung. Seperti halnya masyarakat di Desa Adat Carangsari, Kecamatan Petang, Badung  yang bergotong-royong menjaga nilai-nilai luhur tradisi dan budaya dalam kehidupan masyarakat.

Bendesa Adat Carangsari, Anak Agung Ngurah Artha membenarkan krama Carangsari selalu gotong-royong dalam melestarikan tradisi dan budaya. Kegiatan ini dilakukan secara bersama-sama tidak memandang suatu kedudukan seseorang.

Baca juga:  Desa Adat Bungkulan Komitmen Lestarikan Kesenian Sakral

“Sejak dulu kami selalu kompak bergotong-royong dalam melestarikan budaya. Salah satunya ngayah untuk mensukseskan jalannya kegiatan keagamaan, baik dalam kegiatan agama maupun dalam kegiatan kemasyarakatan,” katanya.

Dia mengakui, masyarakat sangat antusias ngayah dalam setiap prosesi upacara. Saat akan melaksanakan upacara, pihaknya selalu menginformasikan kepada kelian adat di masing-masing banjar.

Nantinya akan diteruskan langsung kepada masyarakat di tujuh banjar. “Masyarakat sangat antusias, seperti saat Pelebon di Puri Carangsari seluruh masyarakat di tujuh banjar ikut ngayah,” ujar Artha saat ditemui belum lama ini.

Baca juga:  Tes Taruna Akpol Saat COVID-19, Ini Harapan Kapolda

Menurutnya, hingga kini masyarakat adat berjumlah 265 KK. Dari keseluruhan masyarakat tetap menjaga kekompakan saat ngayah. “Hal ini terlihat dari salah satu upacara, waktu itu diminta seratus orang untuk ngayah. Jadi mereka datang sejumlah itu,” ungkapnya.

Selain itu, gotong royong krama adat juga terlihat pada saat piodalan di Pura Desa, Ngurah Artha menyebutkan, umumnya setiap tiga tahun sekali dilaksanakan piodalan nyatur yang diiringi dengan mepeed. “Nantinya masyarakat juga akan bergantian mapeed, karena piodalannya dilaksanakan tiga hari. Di situ juga mereka kompak, yakni bergantian setiap harinya untuk dua banjar,” jelasnya. (Parwata/balipost)

Baca juga:  Konsisten Mengawal "Nangun Sat Kerthi Loka Bali"
BAGIKAN